Selasa 08 Aug 2023 09:22 WIB

Fed: Lebih Banyak Kenaikan Suku Bunga Diperlukan Buat Turunkan Inflasi

Kebijakan lebih lanjut The Fed akan diumumkan pada 20 September.

Gedung bank sentral AS the Federal Reserve
Foto: AP Photo/Patrick Semansky
Gedung bank sentral AS the Federal Reserve

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan akan diperlukan untuk menurunkan inflasi ke target 2,0 persen Federal Reserve AS, Gubernur Fed Michelle Bowman mengatakan pada Senin (7/8/2023).

"Kami telah membuat kemajuan dalam menurunkan inflasi selama setahun terakhir, namun inflasi masih jauh di atas target 2,0 persen FOMC," kata Bowman di sebuah acara di Atlanta, mengacu pada Komite Pasar Terbuka Federal.

Bowman menyoroti pasar tenaga kerja yang masih ketat, dengan lowongan kerja yang masih jauh melebihi jumlah tenaga kerja yang tersedia. Mengingat perkembangan ini, pejabat Fed mengatakan bahwa dia telah mendukung menaikkan suku dana federal pada pertemuan Juli.

Bulan lalu, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat persentase poin menjadi ke kisaran 5,25 persen hingga 5,5 persen, level tertinggi dalam 22 tahun. Bowman memperkirakan bahwa "peningkatan tambahan kemungkinan akan diperlukan untuk menurunkan inflasi ke target FOMC."

"Saya akan mencari bukti bahwa inflasi berada pada jalur penurunan yang konsisten dan bermakna karena saya mempertimbangkan apakah kenaikan lebih lanjut dalam suku bunga dana federal akan diperlukan, dan berapa lama suku bunga dana federal perlu tetap pada tingkat yang cukup ketat," kata dia.

Bowman, salah satu anggota komite penetapan suku bunga Fed yang lebih hawkish, membuat komentar serupa dalam pidatonya pada Sabtu (5/8/2023) di Colorado, menggarisbawahi kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan akan dibutuhkan guna membawa inflasi turun ke target Fed 2,0 persen.

"Kita harus tetap bersedia untuk menaikkan suku bunga dana federal pada pertemuan mendatang jika data yang masuk menunjukkan bahwa kemajuan inflasi terhenti," kata pejabat Fed pada Sabtu (5/8/2023).

Pejabat Fed dijadwalkan akan memutuskan kebijakan moneter lebih lanjut dalam pertemuan mereka pada 20 September, dengan jeda yang sangat panjang antara pertemuan yang memungkinkan mereka meninjau data inflasi, pasar kerja, dan ekonomi makro.

Setelah kenaikan suku bunga terbaru pada Juli, Ketua Fed Jerome Powell membiarkan pintu terbuka untuk kenaikan lain pada September, tetapi juga mengisyaratkan bahwa data yang lebih dingin dapat menyebabkan jeda.

Dengan harga konsumen terus menunjukkan tanda-tanda pendinginan yang lebih cepat dari perkiraan pada Juli, pasar secara luas memperkirakan Fed akan kurang agresif dengan sikap kebijakan moneternya.

Banyak investor dan beberapa ekonom, dengan optimisme, saat ini bertaruh melawan kenaikan suku bunga lebih lanjut, dan mereka bahkan memperkirakan langkah bank sentral selanjutnya adalah penurunan suku bunga pada bulan-bulan pertama tahun depan.

Ekonom Goldman Sachs mengatakan mereka terus mengantisipasi The Fed akan "memutuskan bahwa kenaikan akhir tidak diperlukan" karena inflasi yang menurun.

"Kami memperkirakan penurunan inflasi inti lebih besar daripada ketahanan pertengahan tahun dalam data pertumbuhan dan upah," tulis ekonom Goldman Sachs dalam sebuah catatan pada Jumat (4/8/2023).

Menurut Alat FedWatch CME Group, sekitar 86,5 persen pelaku pasar memperkirakan bank sentral tidak menaikkan suku bunga pada September.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement