Jumat 07 Jul 2023 21:54 WIB

Ekonom DBS Proyeksikan Rupiah akan Menguat pada Semester II

Performa mata uang rupiah menjadi yang terbaik tahun ini.

Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Senior DBS Bank Radhika Rao memproyeksikan bahwa mata uang rupiah akan menguat pada semester 2 tahun ini.

"Kami memperkirakan rupiah akan meningkat secara bertahap di sisa tahun 2023 ini, seiring dengan konsolidasi dolar AS," kata Radhika dalam acara Media Briefing Bank DBS di Jakarta, Jumat (7/7/2023).

Baca Juga

Radhika menjelaskan, ada beberapa faktor yang turut mendorong pertumbuhan positif rupiah. Pertama, tingkat inflasi yang kembali pada target. Bulan Juni, inflasi tahunan Indonesia tercatat masih di angka aman yakni pada level 3,53 persen.

Ia memperkirakan pada bulan Agustus hingga September, inflasi masih akan turun di bawah 3 persen, dan pada akhir tahun akan meningkat sedikit lebih tinggi dari 3 persen. Faktor kedua yakni, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5 persen pada tahun 2023 dan 2024.

Kemudian faktor ketiga, terciptanya stabilitas makro ekonomi seiring dengan adanya upaya Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, menurunkan defisit transaksi berjalan ketingkat yang lebih berkesinambungan, serta menjaga keseimbangan fiskal.

"Prediksi kami ada pertumbuhan positif di ekonomi ke depan, ada makro stabilitas, pertumbuhannya cukup kuat yaitu 5 persen tahun ini, dan tahun depan. Inflasi juga akan kembali ke sasaran, yang mana sebenarnya saat ini sudah kembali ke sasaran. Jadi faktor-faktor ini mendukung menguatnya rupiah," ujarnya.

Adapun pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah terpantau melemah terhadap dolar AS. Hal tersebut dipengaruhi oleh data tenaga kerja AS yang akan dirilis malam ini terus menguat. Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan mengindikasikan kekuatan pasar tenaga kerja, serta meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar akan kenaikan suku bunga The Fed ke depan.

Pengaruh lain dari pelemahan rupiah dikarenakan pelaku pasar yang berfokus pada data penggajian non pertanian di AS (yang akan rilis besok) diperkirakan turun ke level 225 ribu.

Namun demikian, Radhika Rao menilai sejauh ini rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa paling baik pada 2023 jika dibandingkan dengan mata uang negara lain seperti ringgit Malaysia, dan yuan China.

"Itulah mengapa sejauh ini mata uang rupiah menjadi yang terbaik tahun ini. Ada mata uang seperti ringgit Malaysia, yuan China yang sebenarnya cukup melemah, namun sebaliknya, anda lihat performa rupiah Indonesia membaik tahun ini," pungkasnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement