Senin 03 Jul 2023 13:58 WIB

Inflasi Semester I 2023 Relatif Terkendali, Andil Terbesar Disumbang Rokok

Inflasi tahun berjalan hingga semester I 2023 mencapai 1,24 persen (ytd).

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini.
Foto: Dok. Humas BPS
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tengah tahun atau semester I 2023 mencapai 1,24 persen secara year to date. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengatakan, selama 2019 hingga 2023, pola inflasi sampai dengan Juni atau semester I cenderung selalu dibawah target.

“Ini bisa kita lihat (selalu di bawah target mencapai 1,24 persen) kecuali pada 2022 yang pada saat itu inflasi Juni 2022 atau year to date-nya sudah mencapai 3,19 persen,” kata Pudji dalam konferensi pers, Senin (3/7/2023).

Baca Juga

Berdasarkan sebaran inflasi tengah tahun menurut wilayah, Pudji menjelaskan, BPS mencatat Jambi memiliki tingkat inflasi tengah tahun yang sama dengan angka nasional yaitu 1,24 persen. Lalu sebanyak 62 kota memiliki tingkat inflasi tengah tahun yang lebih tinggi dari angka nasionalnya.

“Kota Merauke mencatat inflasi tengah tahun tertinggi yakni sebesar 4,65 persen. Sebanyak 26 kota lainnya memiliki tingkat inflasi tengah tahun yang lebih rendah dari angka nasional,” tutur Pudji.

 

Selanjutnya untuk di Bandung, Pudji menyebut tercatat mengalami deflasi pada semester I 2023. Hal tersebut didorong karena adanya penyesuaian kembali tarif PDAM di kota Bandung.

Dia menuturkan, tingkat inflasi semester I 2023 utamanya didorong oleh komoditas volatile food atau bergejolak. Sementara, rokok kretek filter dan bawang putih selalu menjadi penyumbang inflasi bulanan selama semester 1 2023.

Lalu disusul oleh rokok putih yang muncul sebanyak lima kali, kemudian beras daging ayam ras dan telur ayam ras muncul sebanyak empat kali. Begitu juga dengan perhiasan tarif kontrak rumah, bawang merah, dan upah asisten rumah tangga muncul sebanyak tiga kali.

“Jika sebuah komoditas sering muncul sebagai penyumbang inflasi bulanan maka peluangnya tentunya akan menjadi pendorong utama inflasi tahun kalendernya atau year to date yang akan semakin besar,” ungkap Pudji.

Dia memerinci, inflasi tengah tahun pada 2023 utamanya didorong oleh komoditas beras dengan andil 0,20 persen, rokok kretek filter dengan andil 0,14 persen, dan daging ayam ras dengan andil 0,09 persen. Begitu juga dengan bawang putih memiliki andil 0,07 persen, emas perhiasan dengan andil 0,05 persen, dan tarif kontrak rumah dengan andil 0,05 persen.

Sepanjang tahun 2018 sampai dengan 2023 ini terlihat tingkat inflasi pertengahan tahun pada komponen bergejolak relatif lebih tinggi selama lima tahun terakhir. “Terlihat bahwa inflasi tengah tahun utamanya disumbang oleh komoditas pangan bergejolak,” jelas Pudji.

Pada 2023 inflasi tengah tahun komponen bahan makanan tercatat sebesar 3,17 persen. Sedangkan kelompok energi mengalami deflasi setengah tahun sebesar 0,94 persen.

“Deflasi tengah tahun kelompok energi ini didorong oleh komoditas bensin dan solar yang harganya perlahan-lahan terus menurun,” tutur Pudji.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement