Senin 01 May 2023 08:10 WIB

Tarif Angkutan Naik, Ekonom: Inflasi April 2023 Mencapai 0,35 Persen

Inflasi bahan pangan terlihat mereda karena bertepatan dengan puncak panen.

Rep: Novita Intan/ Red: Ahmad Fikri Noor
Calon penumpang pesawat antre untuk check in di Terminal 3 Bandara Sekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (20/4/2023). Inflasi pada April 2023 diproyeksikan sebesar 0,35 persen month-to-month (mtm). Angka itu lebih tinggi dari Maret 2023 sebesar 0,18 persen (mtm).
Foto: Republika/Prayogi
Calon penumpang pesawat antre untuk check in di Terminal 3 Bandara Sekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (20/4/2023). Inflasi pada April 2023 diproyeksikan sebesar 0,35 persen month-to-month (mtm). Angka itu lebih tinggi dari Maret 2023 sebesar 0,18 persen (mtm).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Inflasi pada April 2023 diproyeksikan sebesar 0,35 persen month-to-month (mtm). Angka itu lebih tinggi dari Maret 2023 sebesar 0,18 persen (mtm). 

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan kenaikan secara musiman atau  seasonal itu karena adanya momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang mengerek permintaan masyarakat. 

Baca Juga

“Kami memperkirakan inflasi indeks harga konsumen naik secara musiman dari 0,18 persen (mtm) per Maret 2023 menjadi 0,35 persen (mtm) per April 2023 di tengah perayaan lebaran,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Ahad (30/4/2023).

Faisal menyebut, hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan tarif jasa angkutan penumpang serta harga hotel dan restoran yang terkait dengan kegiatan mudik. Sementara itu, meski pada lebaran utamanya mengerek permintaan pangan, Faisal menuturkan inflasi bahan pangan terlihat mereda karena bertepatan dengan puncak musim panen. 

"Pasokan pangan telah mencukupi sehingga kenaikan harga pangan menjadi sangat terbatas,” katanya. 

 

Melihat kondisi inflasi indeks harga konsumen pada Maret 2023 sebesar 0,18 persen (mtm) dan 4,97 persen (year-on-year/yoy), Faisal memperkirakan inflasi year-to-date sebesar 1,03 persen. Lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang berada di posisi 2,15 persen (ytd).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement