Senin 01 May 2023 08:00 WIB

Harga Pangan Turun, Inflasi Lebaran Diperkirakan Terjaga

Inflasi April didorong oleh peningkatan inflasi inti dan harga diatur pemerintah.

Rep: Novita Intan/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Senen, Jakarta, Senin (27/2/2023). Inflasi pada April 2023 atau bertepatan dengan momen Hari Raya Idul Fitri diperkirakan terjaga dan stabil di kisaran 0,37 persen month-to-month (mtm) atau 4,37 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Foto: Republika/Prayogi.
Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Senen, Jakarta, Senin (27/2/2023). Inflasi pada April 2023 atau bertepatan dengan momen Hari Raya Idul Fitri diperkirakan terjaga dan stabil di kisaran 0,37 persen month-to-month (mtm) atau 4,37 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Inflasi pada April 2023 atau bertepatan dengan momen Hari Raya Idul Fitri diperkirakan terjaga dan stabil di kisaran 0,37 persen month-to-month (mtm) atau 4,37 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, peningkatan inflasi bulanan pada April 2023 didorong oleh peningkatan inflasi inti dan inflasi harga diatur pemerintah. 

“Inflasi inti diperkirakan tumbuh sekitar 2,91 persen (yoy). Selain itu, terkait dengan peningkatan jumlah arus mudik pada Idul Fitri tahun ini yang mendorong kenaikan harga transportasi udara dan transportasi darat yang mendorong peningkatan inflasi harga diatur pemerintah,” ujarnya, Ahad (30/4/2023).

Baca Juga

Josua menyebut pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta aktivitas mudik, konsumsi masyarakat cenderung meningkat sehingga mendorong kenaikan inflasi inti. Meskipun demikian, di tengah peningkatan konsumsi masyarakat khususnya kebutuhan bahan pangan jelang Idulfitri, kondisi inflasi pangan justru terkendali. 

Hal tersebut terindikasi dari penurunan harga dari sebagian komoditas pangan seperti bawang merah minus 5,5 persen (mtm) dan cabai merah minus 11,23 persen (mtm), sehingga berkontribusi terhadap deflasi bulanan inflasi harga bergejolak. 

 

 

Harga beras dan daging ayam masih terpantau naik, masing-masing sebesar 0,5 persen (mtm) dan 1,36 persen (mtm). Pangan tersebut berkontribusi terhadap inflasi harga bergejolak. Dari sisi lain, risiko yang perlu dimitigasi yaitu fenomena El Nino musim kering, yang berdampak terhadap kegiatan produksi pangan, sehingga pasokan pangan domestik berpotensi turun.

“Dampak dari El Nino dapat mempengaruhi produksi pangan domestik, utamanya beras. Besar pengaruh dari dampak El Nino ke depan kami nilai sangat bergantung kepada antisipasi pemerintah dalam menghadapi kenaikan harga-harga pangan tersebut,” ucapnya.

Josua menilai, apabila pemerintah telah mengantisipasi dengan cadangan pangan, utamanya beras yang cukup, maka pada saat kenaikan harga akibat berkurangnya produksi, pemerintah dapat mengantisipasi dengan melakukan operasi pasar untuk mengendalikan kenaikan harga tersebut. 

“Pemerintah juga perlu mempersiapkan opsi impor apabila memang kebutuhan beras tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh produksi domestik,” ucapnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement