Selasa 28 Mar 2023 20:19 WIB

IBC Teken Kerja Sama Produksi Baterai dengan Tiga Produsen Motor Listrik

Pabrik baterai yang sedang dibangun oleh IBC akan mulai berdiri pada 2024 mendatang.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Lida Puspaningtyas
Konferensi pers kerja sama Indonesian Battery Corporation (IBC) bersama tiga produsen motor listrik, Gesits, Volta, dan Alva di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (28/3/2023).
Foto: Republika/Dedy Darmawan Nasution
Konferensi pers kerja sama Indonesian Battery Corporation (IBC) bersama tiga produsen motor listrik, Gesits, Volta, dan Alva di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (28/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia Battery Corporation (IBC) meneken kerja sama ekosistem baterai untuk kendaraan motor listrik dengan tiga produsen motor listrik yakni Gesits, Alva, dan Volta di Jakarta, Selasa (28/3/2023). Lewat kerja sama tersebut, IBC akan memproduksi baterai yang dapat digunakan bersamaan oleh tiga produsen tersebut.

Direktur Utama IBC, Toto Nugroho, mengatakan, kerja sama itu sekaligus akan mendukung bisnis hilirisasi tambang nikel yang dimiliki pemerintah melalui BUMN Pertambangan. Adapun pabrik baterai yang tengah dibangun oleh IBC akan mulai berdiri pada 2024 mendatang.

Baca Juga

Kerja sama dengan Gesits, Volta, dan Alva diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik sekaligus menciptakan permintaan.

"IBC bukan sekadar membuat baterai, tapi membuat ekosistem sehingga terdapat permintaan. Kalau tidak ada permintaan, itu akan diekspor dan efeknya penurunan karbon justru akan terjadi di tempat (negara) lain," kata Toto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/3/2023).

 

Toto menambahkan, sejalan dengan kemunculan industri baterai kendaraan listrik, keandalan pasokan listrik juga diperlukan dan akan dipasok oleh PLN. Diproyeksi untuk tahun 2023 setidaknya kebutuhan untuk motor listrik mencapai 1 giga watt hour (gwh).

Sementara itu, Direktur Wika Industri Manufaktur, Bernardi Djumiril selaku induk usaha Gesits, menambahkan, kerja sama itu menjadi awal dari para pelaku pasar kendaraan listrik untuk bekerja sama mendukung infrastruktur kendaraan listrik.

Sebab tanpa adanya kerja sama antar produsen, sulit membuat standardisasi bersama dan pengembangan industri bakal berjalan lambat. Di sisi lain, masing-masing produsen motor listrik pun harus membuat sendiri baterai yang akan memmbutuhkan investasi besar.

"Kalau masing-masing harus membangun infrastruktur sendiri, biaya investasi yang diperlukan tidak mungkin ditanggung masing-masing pemain," ujar dia.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement