Senin 05 Sep 2022 08:30 WIB

Ikappi: Lonjakan Harga Pangan Terasa Sepekan Pascakenaikan Harga BBM

Ikappi menyebut harga pangan naik setelah pedagang memiliki stok baru.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Pedagang menata bawang merah di Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyampaikan, kenaikan harga BBM dipastikan akan berdampak pada kenaikan harga pangan pokok masyarakat secara nasional. Kenaikan harga pangan diproyeksi akan terasa sepekan setelah pemerintah menaikkan harga BBM sejak Sabtu (3/9/2022).
Foto: ANTARA/Asprilla Dwi Adha
Pedagang menata bawang merah di Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyampaikan, kenaikan harga BBM dipastikan akan berdampak pada kenaikan harga pangan pokok masyarakat secara nasional. Kenaikan harga pangan diproyeksi akan terasa sepekan setelah pemerintah menaikkan harga BBM sejak Sabtu (3/9/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyampaikan, kenaikan harga BBM dipastikan akan berdampak pada kenaikan harga pangan pokok masyarakat secara nasional. Kenaikan harga pangan diproyeksi akan terasa sepekan setelah pemerintah menaikkan harga BBM sejak Sabtu (3/9/2022).

"Satu pekan baru akan terasa, ketika pedagang memiliki stok baru, stok saat ini tentunya masih stok lama dengan harga BBM yang lama," kata Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan, kepada Republika.co.id, Ahad (4/9/2022).

Ia menuturkan, biasanya pedagang akan mendapatkan pasokan pangan yang baru setiap hari Senin atau Kamis. Karena kenaikan harga BBM baru satu hari, Ikappi belum dapat memproyeksi presentase kenaikan harga pangan yang akan diterima konsumen.

Adapun komoditas yang sangat rentan mengalami kenaikan yakni bawang merah,  dan cabai. Sebab, ketiga komoditas itu mudah busuk. Apalagi, sentra pertanaman tiga komoditas pangan itu jauh dari perkotaan yang membutuhkan transportasi.

Meski demikian Reynaldi menekankan situasi harga pangan saat ini belum kembali ke posisi normal setelah mengalami kenaikan harga beberapa waktu lalu. Akibat adanya kenaikan BBM, masyarakat harus bersiap untuk menerima kenaikan harga pangan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

"Apalagi kalau faktor permintaan tinggi seperti hari besar," ujar dia.

Reynaldi mengatakan, Ikappi sejak awal telah menentang keras kenaikan harga BBM untuk saat ini. Pasalnya, naiknya harga bahan bakar akan langsung berimplikasi terhadap 14 komoditas pangan pokok. Kenaikan itu tidak bisa dihindari terlebih pola distribusi pangan yang masih dilakukan secara tradisional.

Seperti diketahui, pemerintah telah resmi menaikkan harga BBM jenis Pertalite menjadi Rp 10 ribu per liter, Solar Rp 6.800 per liter, dan Pertamax Rp 14.500 per liter.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement