Selasa 30 Aug 2022 19:28 WIB

IK-CEPA Disahkan, RI Harap Neraca Dagang dengan Korsel Berbalik Surplus

Korea Selatan menjadi tujuan ketujuh terbesar ekspor Indonesia.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan membacakan laporan pemerintah terkait persetujuan kemitraan ekonomi komprehensif regional saat rapat paripurna DPR ke-3 masa persidangan I tahun 2022-2023 di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/8/2022). Rapat paripurna tersebut beragenda pengambilan keputusan RUU tentang pengesahan Regional Comprehensive Economic Partnership Agreement (persetujuan kemitraan ekonomi komprehensif regional) serta pengambilan keputusan RUU tentang pegesahan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Korea.
Foto: ANTARA/Galih Pradipta
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan membacakan laporan pemerintah terkait persetujuan kemitraan ekonomi komprehensif regional saat rapat paripurna DPR ke-3 masa persidangan I tahun 2022-2023 di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/8/2022). Rapat paripurna tersebut beragenda pengambilan keputusan RUU tentang pengesahan Regional Comprehensive Economic Partnership Agreement (persetujuan kemitraan ekonomi komprehensif regional) serta pengambilan keputusan RUU tentang pegesahan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Korea.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah mengharapkan adanya perbaikan neraca dagang ke arah surplus dengan Korea Selatan setelah resmi mengesahkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea (IK-CEPA) melalui undang-undang.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan, Korea Selatan menjadi tujuan ketujuh terbesar ekspor Indonesia dengan nilai 8,98 miliar dolar AS dan asal impor terbesar keenam dengan nilai 9,42 miliar dolar AS.

Baca Juga

Dari neraca tersebut, Indonesia mencatatkan defisit hingga 445 juta dolar AS pada 2021. "Dengan Korea yang membuka (pembebasan bea masuk) lebih dari 95 persen produk Indonesia akan membuat kesempatan eksportir Indonesia memanfaatkan sehingga posisi (defisit) ini bisa kita ubah sedemikian rupa dan menjadi pihak yang surplus," kata Djatmiko dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/8/2022).

Menurut Djatmiko, Korea menjadi negara yang cukup konservatif dalam menjajaki perjanjian perdagangan. Karena itu, dengan ditekennya perjanjian IK-CEPA, Indonesia menjadi negara yang potensial sebagai mitra dagang strategis.

 

"Mereka berani komitmen karena melihat postur Indonesia itu kenapa mereka akhirnya buka untuk lebih dari 95 persen produk Indonesia, kita punya peluang bagus dibanding negara Asia lainnya," kata dia.

Selain di sektor barang, Djatmiko mengatakan, perdagangan jasa kedua negara juga mulai mengalami kenaikan sejak 2019. Ekspor jasa Indonesia ke Korea Selatan terbesar di antaranya jasa pariwisata dan jasa bisnis.

Djatmiko menuturkan, lewat perjanjian IK-CEPA, akan dibuka lebih dari 100 subsektor jasa bagi kedua negara. Di sisi lain, partisipasi kepemilikam modal asing bisa mencapai 100 persen.

Sementara untuk peningkatan investasi, ia menuturkan, akan ada peningkatan fasilitas dan kerja sama investasi kedua negara.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement