Rabu 15 Jun 2022 10:02 WIB

IHSG Dibuka Melemah, Saham Energi Jumbo Masuk Top Losers

Saham energi jumbo seperti INDY, ADRO dan ADMR terkoreksi lebih dari 1 persen

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (15/6). IHSG terkoreksi tipis ke level 7.031,19 setelah ditutup menguat pada perdagangan kemarin. Penurunan IHSG utamanya disebabkan oleh saham-saham sektor energi yang masuk dalam daftar top losers. INDY, ADRO dan ADMR pagi ini kompak terkoreksi lebih dari 1 persen. INCO terpangkas lebih dalam sebesar 3 persen.
Foto: ANTARA/Aprillio Akbar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (15/6). IHSG terkoreksi tipis ke level 7.031,19 setelah ditutup menguat pada perdagangan kemarin. Penurunan IHSG utamanya disebabkan oleh saham-saham sektor energi yang masuk dalam daftar top losers. INDY, ADRO dan ADMR pagi ini kompak terkoreksi lebih dari 1 persen. INCO terpangkas lebih dalam sebesar 3 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (15/6). IHSG terkoreksi tipis ke level 7.031,19 setelah ditutup menguat pada perdagangan kemarin. 

Penurunan IHSG utamanya disebabkan oleh saham-saham sektor energi yang masuk dalam daftar top losers. INDY, ADRO dan ADMR pagi ini kompak terkoreksi lebih dari 1 persen. INCO terpangkas lebih dalam sebesar 3 persen. 

Baca Juga

Indeks saham di Asia dibuka turun setelah indeks saham utama di Wall Street semalam berakhir varaitif (mixed). "Lonjakan inflasi mendorong investor bersiap menghadapi kenaikan suku bunga acuan terbesar dalam 28 tahun minggu ini," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Rabu (15/6). 

Menurut riset, investor meyakini bank sentral AS, Federal Reserve, akan mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 bps, terbesar sejak November 1994. Investor memprediksi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memicu terjadinya resesi ekonomi pada pertengahan 2023.

 

Rilis data ekonomi AS semalam memperlihatkan inflasi di tingkat produsen (Producer Price Index atau PPI) melonjak 10,8 persen YoY di bulan Mei. Angka ini sedikit lebih lambat dari kenaikan 10,9 persen YoY pada bulan April dan turun dari kenaikan 11,5 persen YoY di bulan Maret.

Secara bulanan (month-on-month), PPI naik 0,8 persen, lebih cepat dari laju kenaikan 0,4 persen di bulan April. Data PPI ini memberi sinyal bahwa ancaman inflasi terhadap ekonomi AS belum menunukkan tanda-tanda akan segera mereda.

Dari sisi makroekonomi, Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan investor hari ini menantikan rilis sejumlah data ekonomi Cina untuk bulan Mei seperti Penjualan Ritel, Industrial Production, Tingkat Pengangguran dan Investasi Aset Tetap (Fixed Asset Investment) sepanjang tahun ini. Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) di jadwalkan merilis data Neraca Perdagangan bulan Mei.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement