Rabu 19 Jan 2022 10:18 WIB

Yield US Treasury Naik Tajam, IHSG Kembali Tertekan di Zona Merah

IHSG tertekan ke zona merah sejalan indeks saham global yang mengalami pelemahan

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Karyawan memfoto layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona negatif pafa perdagangan hari ini, Rabu (19/1). Indeks saham domestik melanjutkan pelemahan dengan dibuka terkoreksi ke level 6.609,83.
Foto: Prayogi/Republika.
Karyawan memfoto layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona negatif pafa perdagangan hari ini, Rabu (19/1). Indeks saham domestik melanjutkan pelemahan dengan dibuka terkoreksi ke level 6.609,83.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona negatif pafa perdagangan hari ini, Rabu (19/1). Indeks saham domestik melanjutkan pelemahan dengan dibuka terkoreksi ke level 6.609,83. 

Pergerakan IHSG ini sejalan dengan indeks saham global yang mengalami pelemahan hari ini. Di Asia, Nikkei 225 terpangkas hingga nyaris sebesar 2 persen. Sementara bursa utama Wall Street masing-masing jatuh di atas 1 persen. 

Phillip Sekuritas Indonesia memperkirakan, IHSG akan mengalami penurunan di akhir perdagangan hari ini. Hal tersebut sejalan dengan respons pelaku pasar terhadap pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun. 

"Pelemahan ini seiring melonjaknya yield surat utang Pemerintah AS ke level tertinggi dalam dua tahun yaitu naik 10 poin ke level 1,87 persen. Padahal akhir tahun lalu, yield masih berada di sekitar 1,5 persen," kata Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Rabu (19/1). 

Menurut riset, investor mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bank sentral AS, Federal Reserve (the Fed), dalam memerangi inflasi dengan cara memperketat kebijakan moneter. Banyak investor yang telah menpertimbangkan empat kali kenaikan suku bunga acuan the Fed tahun ini. 

Selain itu, investor juga mempertimbangkan potensi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Eropa (ECB) yang kemungkinan akan naik satu kali pada tahun ini. Sementara itu di pasar komoditas, harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. 

Kontrak berjangka (futures) minyak jenis WTI terbang hampir dua persen menembus harga 85 dolar AS per barel, tertinggi sejak Oktober 2014. Trend kenaikan harga minyak mentah ini dinilai memberikan tantangan tersendiri bagi negara konsumen dan bank sentral di seluruh dunia yang saat ini berusaha menjinakkan inflasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement