Kamis 17 Jun 2021 09:38 WIB

Sinyal Kenaikan Suku Bunga AS Tekan IHSG ke Zona Merah

Pasar saham melemah setelah the Fed memberi sinyal mempercepat kenaikan suku bunga.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya
Petugas kebersihan melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (ilustrasi).  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Juni 2021 diprediksi melanjutkan penguatan hingga di atas 6.100.
Foto: ANTARA/Aprillio Akbar
Petugas kebersihan melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (ilustrasi). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Juni 2021 diprediksi melanjutkan penguatan hingga di atas 6.100.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona negatif pada perdagangan hari ini, Kamis (17/6). IHSG dibuka melemah dan terus turun hingga 0,51 persen ke level 6.047,78. Sementara indeks LQ45 terkoreksi satu persen. 

Phillip Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG akan cenderung melemah sepanjang hari ini. Hal tersebut sejalan dengan indeks saham di Asia yang dibuka turun mengikuti pelemahan indeks saham utama di Wall Street semalam.

"Pasar saham melemah setelah the Fed memberi sinyal percepatan jadwal kenaikan suku bunga acuan," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Kamis (17/6).

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang Pemerintah AS lompat tajam. Imbal hasil surat utang Pemerintah AS bertenor 10 tahun menembus ke atas 1,56 persen sehingga memperkuat nilai tukar mata uang dolar AS.

Menurut riset, investor berpandangan jika tekanan inflasi bersifat sementara (transitory) seperti ditegaskan oleh pejabat the Fed, seharusnya tidak ada alasan bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat. Terutama di tengah pasar tenaga kerja yang belakangan ini mulai memperlihatkan pelemahan.

Federal Open Market Committee (FOMC) dalam pertemuan kebijakannya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 0 persen hingga 0,25 persen. "Namun hasil pertemuan juga mengejutkan pasar dengan memberi sinyal kenaikan suku bunga hingga akhir 2023," kata Phillip Sekuritas Indonesia. 

FOMC juga merilis Summary of Economic Projections terkini dengan pertumbuhanekonomi (Riil PDB) AS di prediksi tumbuh 7,0 persen pada 2021 sebelum melambat menjadi 2,4 persen di 2024. Ekspektasi inflasi juga mengalami kenaikan dengan core PCE diyakini tumbuh 3,0 persen tahun ini, lebih tinggi dari proyeksi 2,2 persen sebelumnya dan akan melambat menjadi 2,1 persen di tahun 2023. 

Untuk hari ini, menurut riset, investor menantikan rilis data pasar tenaga kerja, yaitu data Tingkat Pengangguran bulan Mei Australia dan data mingguan Jobless Claims di AS. Dari dalam negeri, investor menantikan hasil dari Rapat dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement