Senin 29 Mar 2021 15:36 WIB

Beras Impor Turun Mutu, Bulog Tunggu Keputusan Pemerintah

Selain beras impor, ada pula beras hasil serapan gabah yang turun mutu.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
Perum Bulog menyatakan, sebanyak 106 ribu ton beras eks impor tahun 2018 telah mengalami penurunan mutu akibat terlalu lama tersimpan.
Foto: Antara/Syifa Yulinnas
Perum Bulog menyatakan, sebanyak 106 ribu ton beras eks impor tahun 2018 telah mengalami penurunan mutu akibat terlalu lama tersimpan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perum Bulog menyatakan, sebanyak 106 ribu ton beras eks impor tahun 2018 telah mengalami penurunan mutu akibat terlalu lama tersimpan. Direktur Utama Bulog, Budi Waseso, menyatakan pihaknya menunggu keputusan pemerintah terkait tindakan lebih lanjut terhadap beras tersebut.

"Nanti kami akan angkat dalam rakortas (rapat koordinasi terbatas) karena ini masuk stok cadangan beras pemerintah (CBP) sehingga harus ada keputusan pemerintah mau diapakan," kata Buwas, sapaan akrabnya dalam konferensi pers virtual, Senin (29/3).

Ia megatakan, beras yang turun mutu bukan berarti akan langsung dimusnahkan oleh Bulog. Terdapat sejumlah mekanisme agar beras tersebut bisa digunakan kembali lewat sistem pencampuran dengan beras baru. Selain itu, terdapat pula opsi diolah menjadi produk turunan seperti tepung beras.

"Mau dibuat tepung beras, atau mau dibuat apa, itu keputusan pemerintah. Yang jelas beras impor (2018) bisa bertahan sampai sekarang karena Bulog merawat dengan baik," katanya menambahkan.

Selain beras impor 2018 yang mengalami turun mutu, Buwas mengatakan terdapat pula beras hasil serapan gabah dalam negeri yang mulai mengalami penurunan mutu. Jumlahnya diperkirakan mencapai 21 ribu ton. Namun, menurutnya, pengolahan beras turun mutu produksi dalam negeri jauh lebih mudah ketimbang mengolah beras impor.

Pasalnya, beras impor bersifat pera serta memiliki rasa yang berbeda dengan beras lokal. "Beras dalam neger (turun mutu) tidak ada masalah karena bisa mix dengan beras baru, yang masalah itu beras impor karena taste-nya berbeda," ujarnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement