Senin 21 Oct 2019 18:39 WIB

Imbal Hasil Berpotensi Turun, SBN Tetap Diburu Investor

Saat ini yield SBN bertenor 10 tahun Indonesia dipatok sebesar 7,13 persen

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Obligasi Ritel Indonesia (ORI).
Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Obligasi Ritel Indonesia (ORI).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting menilai, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) masih akan diminati para investor. Prediksi ini disampaikannya di tengah prediksi pemangkasan suku bunga kembali oleh Bank Indonesia (BI) yang berdampak terhadap imbal hasil atau yield.

Loto menjelaskan, kemungkinan yield sampai akhir tahun akan tembus di bawah tujuh persen yang berpotensi menurunkan daya tarik SBN di mata investor. Tapi, fundamental ekonomi Indonesia yang masih stabil membuat SBN masih memiliki 'pesona'.

Baca Juga

"Dibandingkan peers, kita masih cantik," tuturnya saat ditemui di Gedung Dhawa Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (21/10).

Beberapa poin fundamental yang disampaikan Loto adalah inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi untuk tahun kalender sebesar 2,20 persen. Sedangkan, secara tahunan, tingkat inflasi adalah 3,39 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Selain itu, Loto menambahkan, kualitas kredit Indonesia pun semakin baik di mata investor. Sehingga, wajar apabila mereka dapat menikmati imbal hasil yang semakin murah. "Dibandingkan orang yang suka 'ngemplang', reputasi orang yang kredibel tetap lebih baik meski imbalannya murah," ujarnya.

Tingkat yield di bawah tujuh persen bukan merupakan hal baru. Menurut Loto, imbal hasil SBN pernah di bawah enam. Bahkan, pada saat quantitative easing tahun 2012, besarannya mencapai kurang dari lima persen.

Menurunnya yield dinilai Loto sebagai sebuah keuntungan bagi pemerintah. Yield merupakan cost buat pemerintah, sehingga harapannya adalah semakin rendah akan semakin lebih baik. Tapi, kondisi ini tetap diiringi dengan upaya menjaga kredibilitas kredit negara.

Meski SBN berpotensi membantu pembiayaan, Loto memastikan, pemerintah tetap aktif mendorong investasi jangka panjang. Bukan sekadar portofolio, melainkan penanaman modal yang berkualitas tinggi dan memberikan dampak lebih panjang untuk ekonomi Indonesia. Baik itu dalam bentuk Penanaman Modal Asing ataupun Penanaman Modal Dalam Negeri.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menuturkan, dampak tren penurunan suku bunga global ataupun proyeksi skala nasional tidak akan signifikan terhadap SBN. "Karena secara relatif, yield SBN masih tetap menarik," ujarnya saat dihubungi Republika.

Sementara itu, Piter menambahkan, potensi penurunan suku bunga akan menguntungkan pemerintah karena dapat mengurangi biaya dengan bunga SBN yang lebih rendah. Penurunan ini diharapkan dapat membantu pemerintah mengalokasikan anggaran ke proyek strategis nasional yang akan berdampak besar ke perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Dilansir di Trading Economics, yield SBN bertenor 10 tahun Indonesia per Senin adalah 7,13 persen. Angka ini lebih rendah 0,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan lebih rendah 1,5 persen dibandingkan tahun lalu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement