Kamis 01 Aug 2019 15:00 WIB

Jumlah Turis Timur Tengah di Indonesia Meningkat Pesat

Turis Arab Saudi mengalami pertumbuhan terbesar dibanding negara Timur Tengah lainnya

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
 Wisatawan asal Timur Tengah berjalan mengelilingi tempat wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (10/8).
Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
Wisatawan asal Timur Tengah berjalan mengelilingi tempat wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (10/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, wisatawan mancanegara (wisman) dari Timur Tengah mengalami pertumbuhan paling signifikan dibandingkan negara lain pada Juni 2019. Apabila dibanding dengan Juni 2018, pertumbuhannya mencapai 37,95 persen, yaitu dari 26.500 orang menjadi 36.500 orang.

Sementara itu, dibandingkan bulan sebelumnya, tingkat pertumbuhannya lebih tinggi, yakni hingga 531,8 persen. Jumlah wisman Timur Tengah pada Mei 2019 hanya 5.800 orang.

Baca Juga

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, dari beberapa negara Timur Tengah, wisman Arab Saudi mengalami pertumbuhan terbesar secara bulanan, mencapai 1.002 persen "Tapi, saya tidak mengetahui alasannya," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (1/8).

Dalam catatan BPS, jumlah wisman Arab Saudi pada Juni 2019 adalah 26.400 orang. Sedangkan pada Mei 2019, jumlahnya hanya 2.400 wisman.

Pertumbuhan ini terbesar dibandingkan negara Timur Tengah lain seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait yang masing-masing naik 315,96 persen dan 536,45 persen dibanding dengan bulan sebelumnya. Sementara itu, Mesir hanya tumbuh 174,77 persen dalam periode yang sama.

Secara umum, Suhariyanto menuturkan, kunjungan wisman ke Indonesia pada Juni 2019 adalah 1,45 juta kunjungan. Apabila dibanding dengan Juni 2018, jumlah tersebut mengalami kenaikan 9,94 persen, sedangkan dibanding dengan Mei 2019, pertumbuhannya adalah 15,48 persen.

Suhariyanto menjelaskan, kenaikan tersebut disebabkan Juni menjadi bulan dengan masa liburan yang panjang akibat Lebaran dan pergantian tahun ajaran sekolah. Selain itu, Juni juga mendekati peak season di bulan Juli.

"Tentunya, kita berharap angka ini terus naik di Juli," katanya.

Dari total 1,45 juta kunjungan, akses udara menjadi pintu masuk wisman terbesar, yakni hingga 832 ribu kunjungan. Angka itu naik 1,81 persen dibanding jumlah kunjungan wisman dalam periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Peningkatan tertinggi tercatat di Bandara Sultan Iskandar Muda (Aceh) yang mencapai 41,08 persen diikuti Bandara Husein Sastranegara, Jawa Barat, 36,59 persen.

Secara kumulatif Januari hingga Juni 2019, kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 7,83 juta kunjungan. Angka tersebut naik 4,01 persen dibanding dengan periode yang sama pada tahun lalu. Suhariyanto menilai, kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pariwisata untuk menarik wisman ke Indonesia sudah mulai membuahkan hasil. Khususnya dari segi pemasaran di sejumlah negara, termasuk melalui pameran.

Suhariyanto menjelaskan, pemerintah akan terus melakukan upaya untuk meningkatkan jumlah wisman. Sebab, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat lebih banyak didorong dengan sektor yang tidak berbasis sumber daya alam.

"Termasuk pariwisata dan ekonomi kreatif," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement