Kamis 09 May 2019 08:14 WIB

Produksi Kopi Ditargetkan 2-3 Ton per Hektare Tahun Ini

Peningkatan produktivitas biji kopi salah satunya dengan benih unggul bermutu.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Budi Raharjo
Petani menjemur buah kopi robusta yang belum dipisahkan antara kulit dan bijinya di sentra produksi kopi rakyat Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (3/7).
Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Petani menjemur buah kopi robusta yang belum dipisahkan antara kulit dan bijinya di sentra produksi kopi rakyat Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (3/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peningkatan produksi biji kopi tahun ini sebesar 2,1 hingga 3 ton per hektare. Diketahui, saat ini produktivitas biji kopi baru mencapai 0,6-0,7 ton per hektare atau sekitar 775 kilogram (kg) per hektare.

Dia menjelaskan, peningkatan produktivitas biji kopi tersebut salah satunya dengan meningkatkan pemberian benih unggul bermutu. Melalui program pengembangan pemberian bibit unggul 500 juta untuk enam tahun ke depan (Bun500), target benih yang disalurkan per tahun berkisar 83-85 ribu. “Jadi, dari perspektif hulunya kita kembangkan dulu,” kata Kasdi saat dihubungi Republika, Kamis (9/5).

Menurut Kasdi, bibit unggul yang diberikan dapat mempercepat dan memperluas tanam dan produksi. Bibit unggul itu nantinya, kata dia, dapat menggantikan tanaman-tanaman tua. Pemerintah, dalam hal ini Kementan, akan melakukan peremajaan dan rehabilitasi guna meningkatkan percepatan produksi.

Di tengah rontoknya harga biji kopi di negara-negara produsen global seperti Vietnam dan Brazil, pihaknya optimistis Indonesia dapat memanfaatkan peluang tersebut guna mengambil peluang cepat untuk berekspansi dan memperluas pasar. Berdasarkan catatan Intimex Group, harga biji kopi di Vietnam anjlok dalam beberapa tahun terakhir di kisaran 1,42 dolar AS atau lebih rendah 13 persen dibanding tahun lalu.

Sedangkan, ekspor kopi Vietnam pada Maret 2019 turun 24 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara produsen kopi lainnya seperti Brazil, ekspor biji kopi mentah dari negara tersebut pada Maret 2019 turun sekitar 20 persen sibandingkan bulan sebelumnya.

Menanggapi hal ini, menurut Kasdi peningkatan kualitas benih harus diutamakan agar target tanam yang berproduksi dapat dipercepat. Sehingga, kata dia, petani kopi Indonesia dapat mendapatkan biji kopi secara lebih cepat dan berdaya saing baik secara harga maupun kualitas di kancah global dan dapat menggantikan peran produsen kopi lainnya.

Berdasarkan catatan Kementan, luas lahan perkebunan kopi rakyat di Indonesia mencapai 1,24 juta hektare dengan tingkat produksi sebesar 718 ribu ton. Dengan jumlah produksi yang ada, Kasdi mengatakan kopi Indonesia sudah mampu berekspansi di antaranya Kopi Gayo dan Kopi Toraja yang digemari konsumen global.

Dia juga menjamin, harga pembelian biji kopi di tingkat petani sesuai dengan kualitas tanam yang dihasilkan. Menurut dia, harga pembelian biji kopi Robusta berkisar Rp 40 ribu-Rp 45 ribu per kg, sedangkan untuk Arabika berkisar Rp 65 ribu-Rp 70 ribu per kg. “Dari harga itu, kami sudah mengkalkulasi petani dapat untung,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement