Kamis 07 Feb 2019 05:56 WIB

Kementan Targetkan Ekspor 500 Ribu Ton Jagung Tahun Ini

Sebagian hasil panen diekspor ke Malaysia dan Filipina.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat menghadiri panen raya jagung di Lamongan, Jawa Timur, Rabu (6/2).
Foto: Republika/Adinda Pryanka
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat menghadiri panen raya jagung di Lamongan, Jawa Timur, Rabu (6/2).

REPUBLIKA.CO.ID, LAMONGAN -- Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan dapat mengekspor jagung hingga 500 ribu ton sepanjang 2019. Angka tersebut meningkat 31 persen dari realisasi ekspor pada 2018 yang menurut catatan Kementan, mencapai 380 ribu ton. 

Menteri Pertanian Amran Sulaiman optimistis, target tersebut dapat tercapai. Sebab, semakin banyak masyarakat yang menanam jagung di lahan mereka, baik dalam bentuk kebun puluhan hektare maupun sekadar di halaman rumah. "Sepanjang jalan, kami melihat tanaman jagung di pematang-pematang sawah," ujarnya dalam acara panen raya di Lamongan, Jawa Timur, Rabu (6/2).

Menurut Amran, Lamongan sebagai sentra pertanaman jagung di Jawa Timur dinilai mampu menjadi salah satu sumber ekspor. Apalagi, saat ini, pemerintah daerah Lamongan telah menjalin kerja sama dengan Malaysia. Diharapkan, sebagian hasil panen raya sepanjang 2019 dapat dikirim ke negara tetangga.

Selain Lamongan, Amran menyebutkan, Gorontalo juga sudah menyatakan kesiapannya untuk mengekspor jagung hingga 150 ribu ton. Potensi lain juga terlihat dari daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. "Utamanya, kami akan ekspor ke Filipina," tuturnya.

Amran menjelaskan, rencana ekspor jagung 500 ribu ton sebenarnya masih terlalu kecil dibanding rekor impor Indonesia yang pernah menyentuh angka 3,5 juta ton pada 2014. Tapi, ia meyakini, Indonesia berpeluang besar membalikkan keadaan dari negara importir jagung menjadi eksportir utama.

Amran mengakui, pada tahun lalu, Indonesia memang harus impor jagung karena banyak perusahaan pakan ternak berskala besar yang banyak menggunakan jagung sebagai bahan baku. Padahal, mereka seharusnya menggunakan gandum. Kementan sendiri telah mengeluarkan rekomendasi impor gandum 200 ribu ton, tapi tidak jadi terlaksana karena preferensi perusahaan besar itu.

Peralihan perusahaan pakan ternak dari gandum ke jagung bukan tanpa alasan. Amran menjelaskan, mereka senang menggunakan jagung karena lebih murah dibandingkan gandum impor. "Apalagi kemarin nilai tukar rupiah sempat mencapai Rp 15 ribu per dolar AS. Jadi, mereka  (perusahaan) lebih untung dengan jagung, tapi dampaknya menyusahkan peternak," ucapnya.

Melihat kondisi peternak yang terus terjepit, pemerintah memutuskan untuk mengimpor jagung. Tapi, Amran memastikan, keputusan tersebut atas dasar ingin menyejahterakan peternak.

Amran menilai, stabilitas harga jagung akan segera tercapai seiring dengan memasuki masa panen raya, termasuk di Lamongan. Menurutnya, harga jual jagung kini sudah di kisaran Rp 3.400 sampai Rp 3.600 per kilogram, jauh membaik dibandingkan dua bulan lalu yang mencapai Rp 5.600 per kilogram.

Namun, Amran menambahkan, harga juga tidak dapat terus turun hingga di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP). Oleh karena itu, ia mengajak Perum Bulog untuk segera menyerap hasil panen raya. "Ini juga sudah diperintahkan oleh Presiden Jokowi. Jangan biarkan petani merugi, tapi juga harus membuat peternak merasa untung," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati menyampaikan, pihaknya bersedia membantu memfasilitasi petani jagung untuk ekspor komoditas. Apalagi, pada musim panen tahun lalu, tingkat produktivitas jagung di Lamongan, khususnya di Kecamatan Modo, mengalami peningkatan hingga dua kali lipat. Yaitu, dari lima sampai enam ton jagung per hektar, kini rata-rata mencapai 10,3 ton per hektare. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement