Selasa 18 Dec 2018 14:26 WIB

Pemerintah Ingin Dorong Hilirisasi Batu Bara, Ini Kata Adaro

Kebijakan hilirisasi batu bara tidak bisa terlepas dari respons pasar

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) Garibaldi Thohir.
Foto: Republika/Prayogi
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) Garibaldi Thohir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Direktur PT Adaro Energy, Tbk Garibaldi Tohir mengatakan saat ini Adaro mulai bergerak untuk melakukan penelitian dan kajian terkait gasifikasi batu bara. Boy menjelaskan, meski sebenernya ide ini sudah menjadi kajian perusahaan sejak tiga tahun yang lalu.

Boy menjelaskan, sejak tiga tahun yang lalu Adaro sudah melakukan komunikasi dengan Xen Hua Energy asal Cina yang memang melakukan hilirisasi batu bara secara masif. Dari hasil pembicaraan tersebut memang sangat memungkinkan kerja sama teknologi untuk mengembangkan gasifikasi batu bara ini.

Baca Juga

"Salah satu yang cukup maju dalam teknologi nilai tambah itu memang Cina. Kita sudah bicara sama Xen Hua Energy mengenai coal to liquid, coal to gas, coal to amonia dan coal to dimethyl ether (DME)," ujar Boy, Selasa (18/12).

Namun menurut Boy dalam melihat hilirisasi batu bara tidak bisa terlepas dari pasar. "Memang kalau harga batu bara lagi turun, maka dijual langsung lebih ekonomis. Kalau lagi naik, yang konversi itu yang lebih baik. Balik-baliknya ke respons pasar (lagi)," ujar Boy.

Boy optimistis bahwa gasifikasi batu bara akan maju ke depan. Hanya saja, seperti apa pemahaman masyarakat juga perlu didorong oleh pemerintah.

"Sekarang kan masyarakat belum familiar sama DME. Tapi masyarakat banyak yang familiar sama gas elpiji. Nah tapi saya yakin pelan pelan, ini kenapa elpiji lebih kompetitif, ya karena subsidi. Kalau enggak ya DME ya lebih kompetitif DME," tambah Boy.

Apalagi, kata Boy untuk mengembangkan DME atau gasifikasi batu bara ini tidak perlu investasi yang besar-besaran. "Berkaca pada proyek PLTS, itu kan tadinya mahal banget tuh. Makin kesini makin murah. Nah, saya rasa nanti nih, yang namanya DME, teknolgi mahal misalnya. tapi makin lama makin murah dan pasar siap, pasokan ada, maka suatu saat nanti kita bisa reduce impor LPG untuk ini," ujar Boy.

Namun memang Boy menjelaskan untuk saat ini Adaro fokus melakukan hilirisasi melalui PLTU mulut tambang. Ia menjelaskan secara cost efisiensi logistik, PLTU mulut tambang yang paling mungkin dikembangkan.

Boy mengatakan Adaro juga masih perlu fokus menyelesaikan dua proyek PLTU mulut tambang yang saat ini sedang dikerjakan. "Kita masih fokus ke coal to electricity. Kenapa? Adaro masih punya banyak proyek pertambangan di Kalsel. Itu kita fokus dulu. DME ya kita studi sekarang nih. Ya tahapan lah. Capex dan lain-lain juga perlu," ujar Boy.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement