Kamis 01 Mar 2018 16:48 WIB

Perusahaan Penyedia 'ATM Bersama' Lakukan IPO

Artajasa melakukan IPO sebagai bagian strategi korporasi.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Teguh Firmansyah
Dirut PT Artajasa Pembayaran Elektronik Tbk Bayu Hanantasena (kedua kanan), mengacungkan jempol bersama Direktur Bisnis Anthoni Morris (kiri), Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Teddy Sis Herdianto (kedua kiri) dan Direktur SDM dan Keuangan Nawawi, usai Paparan Publik dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham (IPO), di Jakarta, Kamis (1/3).
Foto: Antara/Audy Alwi
Dirut PT Artajasa Pembayaran Elektronik Tbk Bayu Hanantasena (kedua kanan), mengacungkan jempol bersama Direktur Bisnis Anthoni Morris (kiri), Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Teddy Sis Herdianto (kedua kiri) dan Direktur SDM dan Keuangan Nawawi, usai Paparan Publik dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham (IPO), di Jakarta, Kamis (1/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Artajasa Pembayaran Elektronis Tbk hari ini melakukan Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO). Jumlah saham yang akan ditawarkan sebanyak-banyaknya sebesar 437.505.800 saham biasa atas namanya.

Dari total tersebut Artajasa melepas 187,65 saham baru. Sementara sisanya sekitar 250 merupakan saham milik PT Aplikanusa Lintasarta. Jumlah itu sama dengan 20 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO. Dengan nominal Rp 100 setiap saham.

"Sebagai pelopor di industri sistem pembayaran, kami melakukan rencana IPO ini sebagai strategi korporasi dalam mendukung implementasi Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Kami optimis saham kami akan diminati oleh investor karena prospek industri sistem pembayaran di Indonesia," jelas Direktur Utama Artajasa Bayu Hanantasena kepada wartawan di Jakarta, Kamis, (1/3).

Menurutnya, industri tersebut masih sangat menjanjikan. Hal itu didukung oleh beberapa faktor seperti tingkat penetrasi layanan perbankan dan keuangan yang masih rendah. Selanjutnya, inisiatif pemerintah untuk mendorong pertumbuhan transaksi nontunai  serta transaksi e-commerce dinilai juga mendukung industri pembayaran.

Rentang harga IPO Artajasa sebesar Rp 850- Rp 1.250 per lembar saham. Perusahaan pemilik jaringan ATM Bersama ini berharap dapat meraup dana dari bursa sekitar Rp 371,88 miliar hingga Rp 546,89 miliar.

"Sekitar 60 persen dana hasil IPO akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas layanan melalui pembelian perlengkapan teknologi informasi. Sisanya 40 persen untuk memperkuat modal kerja perseroan seiring bertambahnya jejaring bisnis," jelas Bayu.

Perseroan pun menargetkan pernyataan efektif Otoritas Jasa Keuangan dapat diperoleh pada 22 Maret 2018. Lalu Masa penawaran umum akan berlangsung pada 23 dan 26 Maret 2018. Dengan begitu, Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia direncanakan pada 29 Maret 2018.

Sebagai informasi, selama periode 2014-2016, Artajasa membukukan pendapatan bersih dari Rp 409,72 miliar menjadi Rp 489,82 miliar atau laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR). Angka itu 9,3 persen lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal ini sejalan dengan pertumbuhan laba periode berjalan dari Rp 121,75 miliar menjadi Rp 156,87 miliar dengan CAGR 13,5 peren, lebih tinggi dari laju pertumbuhan pendapatan bersih. Sampai dengan periode 9 bulan tahun 2017, Artajasa telah membukukan pendapatan bersih sebesar 74 persen dari pendapatan bersih yang dibukukan di akhir tahun 2016 dengan laba periode berjalan mencapai 70 persen untuk periode yang sama.

Sejak 2002, Artajasa telah mengelola jaringan ATM Bersama. Per 30 September 2017, jaringan ATM Bersama memiliki 88 anggota dengan lebih dari 100 juta pemegang kartu. Di periode yang sama tercatat sekitar 77 ribu layanan terminal ATM.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement