Rabu 24 Jan 2018 15:48 WIB

Mentan Ingin Produksi Gabah Naik Lima Persen

Mentan klaim produksi gabah 2016 dan 2017 surplus sehingga tidak ada impor beras.

Red: Nur Aini
Sejumlah pekerja mengeringkan gabah di pelataran penggilingan padi/ilustrasi
Foto: Antara
Sejumlah pekerja mengeringkan gabah di pelataran penggilingan padi/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SRAGEN -- Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan produksi gabah nasional pada 2018 menargetkan minimal bisa meningkat sekitar lima persen dibanding tahun sebelumnya.

"Kami produksi gabah pada 2016 dan 2017 surplus, sehingga tidak ada impor beras," kata Mentan disela acara Panen dan Tanam Tanaman Padi di Desa Plumbungan Kecamatan Karangmalang, Sragen, Rabu (24/1).

Mentan mengatakan produksi pada 2017 sebanyak 82,3 juta ton gabah kering panen (GKP), dan tahun ini, minimal ada kenaikan lima persen. "Kita ingin melihat panen dan produksi padi dan kini memasuki panen raya, sehingga harga sudah mulai turun antara Rp 600 hingga Rp 700 per kg gabah. Mudah-mudahan dalam waktu dekat harga beras juga bisa turun," kata Mentan.

Mentan mengatakan pihaknya sekarang berusaha mengisi gudang Bulog dengan menyerap gabah hasil panen petani agar cadangan beras meningkat. Menurut Mentan, pada musim iklim ekstrim beberapa waktu lalu Indonesia tidak sampai impor beras, dan bahkan komoditas jagung yang dahulu impor dari Amerika dan Argentina sekitar 3,6 juta ton, kini juga tidak ada sama sekali. Hal ini, merupakan keberhasilan petani yang selalu bekerja keras menuju swasembada pangan.

Indonesia sebelumnya, kata Mentan, juga impor bawang dari Thailand sebanyak 72 ribu ton, dan sekarang sudah mampu ekspor dengan serangan balik ke negara lain. Bahkan komoditas cabai yang sebelumnya harga naik hingga tinggi, dan sekarang sudah stabil. Empat komoditas strategis ini tidak ada yang bisa membantah produksinya meningkat. "Ada yang mengatakan turun produksi karena mereka tidak pernah ke lapangan dan bukan orang pertanian sehingga pendapatnya tidak bisa ketemu," kata Mentan.

Menurut Mentan, yang menarik lagi petani sekarang dapat perlindungan dengan adanya asuransi pertanian yang pertama dalam sejarah Bangsa Indonesia dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pemerintah selama 70 tahun tidak pernah ada asuransi pertanian. "Petani jika lahannya terkena musibah bencana banjir misalnya bisa diasuransikan melalui Jasindo," katanya.

Mentan mengatakan Presiden dengan adanya asuransi tersebut tidak mau rakyatnya merugi. Namun, petani di Sragen harus bersyukur tidak ada lahan padi yang gagal panen karena bencana sehingga tidak ada yang harus mengurus asuransinya.

Menurutnya, ada perubahan total atau revolusi pertanian mulai dari pusat hingga ke daerah selama pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Para petani sekarang sudah menggunakan peralatan pertanian baik mulai mengolah lahan hingga masa panen yang membutuhkan waktu bekerja yang singkat. Petani dibanding sebelumnya harus bekerja butuh waktu lama untuk mengolah lahan dan panen.

"Hal ini, harga naik banyak diributkan orang, tetapi jika harga turun sepertinya tidak terjadi apa-apa. Padahal, kami tanpa petani kita tidak bisa makan. Yang memberikan makan Indonesia adalah petani," kata Mentan menegaskan.

Mentan mencontohkan harga bawang sekarang turun ada yang Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kg. Bapak Presiden mimpinya peningkatan kesejahteraan petani seperti adanya asuransi, peralatan pertanian. Petani jika panen lahan satu hektare membutuhkan 25 orang dengan waktu lama, dan sekarang rata-rata satu orang butuh tiga jam untuk lahan luas satu hektare.

Kendati demikian, Bangsa Indonesia mengutamakan gotong royong, saling menghargai dan menghormati, sehingga Indonesia bisa merdeka karena bukan peralatannya lebih canggih tetapi mengutamakan persatuan kesatuan seluruh bangsa ini.

Baca juga: Industri Kecil Garam di Pati Berguguran

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement