Kamis 27 Apr 2017 16:15 WIB

Gubernur BI: Bank Sentral Fokus Stabilitas Makro Ekonomi

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
 Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) tahun ini akan fokus pada pemeliharaan stabilitas makro ekonomi. Hal itu dinilai cukup penting karena pengalaman empiris, stabilitas ekonomi merupakan upaya untuk mendorong kebijakan ekonomi.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan, pada tahun lalu BI mengeluarkan beberapa kebijakan struktural. "Jadi pada 2017, ada strategi operasional berupa implementasi Giro Wajib Minimum (GWM) averaging. Lalu akan optimalkan Surat Berharga Negara (SBN)," ujarnya di Jakarta, Kamis, (27/4).

Pada sistem pembayaran, ia mengatakan, kebijakan BI akan diperkuat dengan sistem pembayaran domestik. Bank sentral akan mengimplementasikan Nasional Payment Gateaway (NPG) untuk saluran elektronik.

"BI juga akan kembangkan transaksi kita. Di antaranya kita sudah menerbitkan kebijakan transaksi sertifikat deposito di pasar sekunder," ujarnya. Menurutnya, BI harus tetap menjaga stabilitas keuangan negara, meski kondisi global terus bergejolak.

Salah satunya kondisi di Korea Utara, membuat Indonesia harus mewaspadai respons Cina. "Kita harus jaga perekonomian domestik dengan pajak untuk stimulus fiskal, serta konsolidasi perbankan dan korporasi. Kita harapkan bisa cepat," tutur Agus. Menekan inflasi akibat kenaikan harga komoditas global pun menurutnya, jadi fokus BI.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menambahkan, mau tidak mau BI memang harus melihat apa yang terjadi di eksternal. Salah satunya pergerakan suku bunga AS Fed Fund Rate.

"Kebijakan The Fed saat ini bukan hanya kenaikan Fed Fund Rate tapi bertambah penurunan balance sheet fed rate," ujarnya. Maka stabilitas harus tetap dijaga dengan terus mengendalikan laju inflasi. BI menargetkan tahun ini inflasi sebesar 4 persen plus minus 1 persen. Kini inflasi pun masih terjaga di bawah empat persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement