Kamis 01 Oct 2015 22:34 WIB

Deflasi September Akibat Daya Beli Masyarakat Menurun

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Warga melihat deretan televisi yang dijual disalah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (27/8).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Warga melihat deretan televisi yang dijual disalah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (27/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan, terjadi deflasi di September hingga 0,05 persen. Menurut Ekonom INDEF Eko Listianto, terjadinya deflasi menggambarkan permintaan serta konsumsi masyarakat berkurang.

"Kalau dilihat data BPS, deflasi pada bahan makanan mencapai 0,23 persen, lalu disusul dengan deflasi di transportasi, padahal September ada hari raya Idul Adha," ujarnya kepada Republika, Kamis, (1/10).

Ia menambahkan, biasanya saat hari raya mengeluarkan lebih banyak untuk konsumsi, namun kali ini tidak. Hal itu menunjukkan daya beli masyarakat melemah.

"Jadi mereka menahan diri, saving karena keuangan terbatas, biasanya mudik pun jadi ga mudik padahal momentum libur panjang," tutur Eko. Menurutnya, pelemahan itu merupakan dampak dari lesunya perekonomian yang tengah terjasi.

Maka, eko menegaskan, deflasi di September bukan karena keberhasilan upaya TPID atau pemerintah sudah 'all out', melainkan saya beli masyarakat terbatas. "Pasokan dari pemerintah juga kurang, karena el nino," tambahnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement