Kamis 05 Dec 2013 16:47 WIB

OECD: Tantangan Negara Berkembang Lolos dari Jebakan Middle Income

Para penjahit busana di negara berkembang
Foto: AP
Para penjahit busana di negara berkembang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan negara berkembang Asia memiliki tantangan untuk lolos dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), meski memiliki pertumbuhan ekonomi stabil dalam empat dekade terakhir.

"Beberapa negara berkembang berpenghasilan menengah menghadapi tantangan sulit untuk mempertahankan pertumbuhan jangka panjang dan keluar dari middle income trap," kata Head of The Asia Desk, OECD Development Centre Kensuke Tanaka dalam seminar di Jakarta, Kamis (5/12).

Kensuke mengatakan agar dapat lolos dari middle income trap maka negara berkembang Asia harus melakukan perubahan mendasar dalam struktur ekonomi dan mengembangkan sektor jasa modern untuk menjadi negara maju. "Membuat kebijakan yang tepat dan memperkuat institusi menjadi kunci utama untuk transformasi industri serta mendorong kesempatan berusaha, kemudian selalu beradaptasi serta memiliki kemampuan untuk merespon segala perubahan yang terjadi di pasar," paparnya.

Salah satu upaya memperkuat institusi adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan selalu melahirkan inovasi, yang bermanfaat untuk memperkuat pondasi sektor industri, yang dapat menghasilkan peningkatan nilai tambah dan pelayanan jasa. "Untuk mengembangkan sektor jasa modern harus ada upaya pemanfaatan teknologi serta mendorong produktivitas. Selain itu, penguatan kerjasama antara kawasan juga diperlukan untuk peningkatan efisiensi tenaga kerja dan mendorong kinerja sektor manufaktur," ujar Kensuke.

Berdasarkan simulasi OECD, Indonesia baru dapat berkembang dari negara berpendapatan menengah menjadi negara berpendapatan tinggi atau negara maju pada 2042, atau lebih lambat dibandingkan Malaysia pada 2020, Cina pada 2026 dan Thailand pada 2031. Indonesia, kata Kensuke, hanya unggul dari Filipina yang diperkirakan baru menjadi negara maju pada 2051, Vietnam pada 2058 dan India pada 2059, karena terlambat melakukan pengembangan kapasitas institusional dan mengantisipasi perubahan.

"Dalam skenario terbaik, jika perubahan mendasar diterapkan, maka Cina dan Thailand dapat menjadi negara berpendapatan tinggi dalam waktu 20 tahun. Sedangkan Vietnam dan India membutuhkan lebih dari 40 tahun untuk mencapai posisi negara maju," katanya.

Negara-negara tersebut dapat belajar dari Jepang, Korea Selatan dan Singapura yang saat ini telah menjadi negara maju, karena memiliki keunggulan dalam sumber daya manusia dan mampu memanfaatkan inovasi teknologi informasi untuk mendorong produktivitas.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement