Jumat 18 Oct 2013 15:04 WIB

Pemerintah Masih Kaji Kilang BBM Arun

Kilang LNG Arun, Aceh
Kilang LNG Arun, Aceh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah masih mengkaji pembangunan kilang pengolahan bahan bakar minyak berkapasitas 300 ribu barel per hari di Arun, Lhokseumawe, Aceh. Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo di Jakarta, Jumat (18/10) mengatakan, rencana pembangunan kilang minyak di Arun masih jalan terus. "Kami masih kaji," katanya.

Menurut dia, pihaknya juga masih mengkaji pembangunan kilang di lokasi selain Arun seperti Bontang, Kaltim dan Plaju, Sumsel. Susilo mengatakan, pembangunan kilang minyak yang berlokasi di kompleks kilang gas alam cair (LNG) di Blang Lancang, Arun itu akan memakai skema pembiayaan APBN.

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Arun NGL Iqbal Hasan Saleh mengatakan, pembangunan kilang minyak di Arun paling memungkinkan dibandingkan lokasi lain. Kilang minyak mentah bisa memanfaatkan lahan dan infrastruktur seperti pelabuhan berkedalam 40 meter dan jalan yang kini dimiliki Arun NGL.

Selain juga, Arun memiliki lokasi yang strategis sebagai jalur perairan internasional sehingga memudahkan masuknya minyak mentah sebagai bahan baku. Aceh juga tidak terlalu jauh dari Singapura yang memiliki sejumlah kilang minyak, sehingga bisa bersaing secara kompetitif.

Iqbal juga sudah mempresentasikan rencana kilang minyak tersebut di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kilang LNG Arun diperkirakan akan berhenti operasi pada 2014 menyusul keterbatasan pasokan gas dari ladang yang dioperasikan ExxonMobil Oil Indonesia. Arun memiliki enam unit pengolahan (plant) berkapasitas 12,5 juta ton LNG per tahun.

Sebagian tangkinya akan dialihkan sebagai terminal LNG oleh Pertamina. Arun NGL dimiliki PT Pertamina (Persero) dengan kepemilikan 55 persen, Mobil Oil Indonesia Inc 30 persen, dan Japan Indonesia LNG Co (Jilco) 15 persen sebagai representasi pembeli.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement