Sabtu 12 Jun 2010 03:15 WIB

Boros dan Bising, Indonesia akan Kurangi Pesawat B737-200

Pesawat Boeing B737-200
Foto: AIRPLANE.PICTURE.NET
Pesawat Boeing B737-200

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Indonesia secara bertahap akan mengurangi penggunaan pesawat jenis B737-200, menyusul komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi gas buang sampai 26 persen pada 2020. "Meski hanya 13 dari 300 lebih pesawat, secara alami jenis pesawat ini akan terkurangi secara alami," kata Menteri Perhubungan, Freddy Numberi, kepada pers di Bandung, Jumat (11/6).

Freddy tidak menolak pernyataan bahwa jenis pesawat tersebut boros bahan bakar dengan tingkat kebisingan yang lumayan tinggi sehingga bisa dikatakan tidak ramah lingkungan. Bahkan, jamak disebut-sebut, jenis pesawat tersebut sudah lama dilarang di Bandara Changi, Singapura.

Namun, Freddy menggaris bawahi dengan populasi yang relatif sedikit di Indonesia, kontribusinya tidak signifikan bagi upaya perbaikan kualitas lingkungan dunia penerbangan. "Sepuluh pesawat dari 300 lebih pesawat, tak berarti. Namun, kita berkomitmen bahwa gerakan go green ini harus diterapkan secara bertahap," katanya.

Untuk itu, tegasnya, pihaknya mendukung upaya maskapai nasional yang telah menerapkan pencampuran bahan bakar bio pada bahan bakar pesawat sebenyak lima persen sejak 2009. "Ini contoh komitmen kita," katanya.

Komitmen lingkungan ini, tambah Freddy, juga sejalan dengan strategi pembangunan Indonesia ke depan yakni pro kemiskinan, pro pertumbuhan, pro pembukaan lapangan kerja serta pro lingkungan.

Siap Dihangarkan

Menanggapi rencana pemerintah untuk mengurangi Boeing 737-200, Direktur Niaga Sriwijaya Air, Toto Nursatyo, sebagai salah satu dari maskapai yang masih mengoperasikan pesawat jenis itu, menyatakan kesiapannya untuk menghentikan operasi pesawat tersebut. "Kita siap grounded, jika memang ada regulasi baru pemerintah yang melarang jenis pesawat ini," katanya

Lagi pula, kata Toto, regulasi yang ada masih membolehkan pesawat ini dioperasikan. "Pembatasan pesawat di Indonesia maksimum 30 tahun atau 70 ribu 'cycle'," katanya. Kemudian, tegasnya, 13 pesawat yang dioperasikan maskapainya masih belum termasuk dalam regulasi itu.

Kendati begitu, tambahnya, perusahaannya berencana mengeluarkan pesawat jenis B737-200 dari armada Sriwijaya Air mulai tahun depan secara bertahap. "Di dunia, populasi pesawat ini masih ada sekitar 1.200 pesawat dan masih beroperasi hingga kini," katanya.

sumber : Ant
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement