Rabu 30 Sep 2026 13:45 WIB

BI Kurangi Intervensi di Pasar Spot Jadi 30 Persen

Posisi cadangan devisa Indonesia di sepanjang tahun ini cenderung menurun.

Rep: Eva Rianti/ Red: Gita Amanda
Petugas mengecek uang tunai sebelum didistribusikan melalui kantor cabang dan mesin ATM di Pooling Cash Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (8/9/2022). Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2022 stagnan sebesar 132,2 miliar dollar AS jika dibandingkan pada Juli lalu yang juga sebesar 132,2 miliar dollar AS.
Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Petugas mengecek uang tunai sebelum didistribusikan melalui kantor cabang dan mesin ATM di Pooling Cash Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (8/9/2022). Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2022 stagnan sebesar 132,2 miliar dollar AS jika dibandingkan pada Juli lalu yang juga sebesar 132,2 miliar dollar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memangkas porsi intervensi rupiah di pasar spot menjadi 30 persen dari total keseluruhan intervensi bank sentral. Penetapan tersebut dilakukan seiring dengan semakin menipisnya cadangan devisa. 

Data BI menunjukkan, posisi cadangan devisa Indonesia di sepanjang berjalannya tahun ini cenderung mengalami penurunan. Per Agustus 2026, cadangan devisa tercatat sebanyak 146,5 miliar dolar AS. Angka tersebut menurun sebesar 8,1 miliar dolar AS dibandingkan awal tahun (Januari 2026) sebesar 154,6 miliar dolar AS. 

Baca Juga

Sebagai informasi, ada kaitan langsung antara intervensi di pasar spot dengan kondisi cadangan devisa. Ketika bank sentral melakukan intervensi di pasar spot untuk menahan pelemahan mata uang domestik, bank sentral biasanya menjual valuta asing (valas) dan membeli mata uang domestik. Karena valas yang dijual berasal dari aset atau cadangan devisa, maka cadangan devisa dapat berkurang. 

“Dengan cadangan devisa kita berada pada jumlah yang memadai dengan ukuran-ukuran yang ada, komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar itu tidak pernah turun,” kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Penglolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea dalam acara Taklimat Media di Kompleks BI, Jakarta, Rabu (30/9/2026). 

Penetapan komposisi intervensi di pasar spot menjadi 30 persen dilakukan BI di tengah kondisi dinamika pasar. Secara historikal, instrumen-instrumen intervesi BI meliputi tiga instrumen, yakni di pasar spot, di Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Erwin menuturkan, BI akan menyeimbangkan ketiga instrumen intervensinya tersebut. 

“Di dalam konteks mendorong pendalaman pasar dan mengatur agar supply dan demand bertemu sesuai dengan kebutuhannya, tentu saja Bank Indonesia terus mendorong agar transaksi valas di domestic market kita tidak semuanya go show, tidak semuanya di cash, tidak semuanya TTS (Today, Tomorrow, Spot) atau cash market,” ujarnya. 

Sehingga, Erwin melanjutkan, jika ada kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya belum segera, pihaknya mendorong agar pemenuhannya lewat mekanisme hedging agar kebutuhan valas di pasar domestik bisa tertata. 

“Secara historis, dengan upaya kita mendorong perkembangan pasar valas domestik, dari sisi komposisi instrumen ini sudah mulai agak berimbang. Tetapi itu tidak bermakna bahwa komitmen Bank Indonesia untuk melakukan intervensi menjaga stabilitas di pasar spot itu berkurang. Bukan berarti dulu Bank Indonesia intervensinya 100 persen di spot, enggak juga, jadi yang namanya komposisi instrumen itu sifatnya merespons dinamika pasar,” jelasnya.

Erwin menekankan, yang pasti, BI akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar. Termasuk jika kebutuhan di pasar spot sedang tinggi, BI dipastikan akan hadir di pasar spot demi menciptakan stabilitas Mata Uang Garuda. Ia meminta masyarakat untuk memaknai komposisi tersebut sebagai komposisi yang sifatnya historis, dan tidak ada target tertentu di dalam komposisinya. 

“Operasi Bank Indonesia di tiga instrument untuk menjaga stabilitas nilai tukar itu selalu sifatnya merespons perkembangan dan dinamika yang ada. Kita tentu sangat happy kalau pemenuhan kebutuhan valas kita sebagaimana wajarnya pasar-pasar yang sudah berkembang dan dalam, itu komposisi antara instrumen-instrumen cash market dengan instrumen yang sifatnya lindung nilai itu sudah berimbang,” tegasnya. 

Ia menambahkan, sejumlah pasar di negara-negara lain yang cukup berhasil dalam upaya pendalaman pasarnya juga tidak hanya melakukan intervensi di pasar spot saja, tetapi juga pasar forward, pasar swap, dan pasar DNDF turut berkembang. Tak ayal, BI pun melancarkan strategi serupa. 

“Dan sejalan dengan pengembangan pasar keuangan kita yang ada di blueprint pendalaman pasar uang, Bank Indonesia mengarah ke sana untuk mendorong perkembangan pasar kita,” tuturnya. 

Berita Lainnya

Rekomendasi