Selasa 29 Sep 2026 16:11 WIB

HSBC Proyeksi Rupiah di Sekitar Rp 18.000 Akhir 2026

Stabilitas rupiah dinilai tidak harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda
HSBC memperkirakan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 15.800 hingga Rp 16.000 per dolar AS pada akhir 2026. (ilustrasi)
Foto: Republika/Prayogi
HSBC memperkirakan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 15.800 hingga Rp 16.000 per dolar AS pada akhir 2026. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- HSBC memperkirakan nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir 2026. Pergerakan rupiah dinilai lebih banyak dipengaruhi penguatan dolar AS dibandingkan tekanan spesifik terhadap mata uang domestik.

Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann mengatakan ruang pergerakan rupiah hingga akhir tahun relatif terbatas karena hanya tersisa sekitar tiga bulan. HSBC memperkirakan rupiah cenderung stabil atau sedikit melemah.

Baca Juga

“Terkait rupiah, kita harus mengakui bahwa The Fed sedang menaikkan suku bunga saat ini dan dolar karena itu mendapat banyak dukungan. Kita melihat penguatan dolar terhadap banyak mata uang, yen Jepang misalnya, Eropa, euro juga,” kata Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut lebih mencerminkan kekuatan dolar AS dibandingkan kelemahan fundamental rupiah. “Jadi kita hanya punya tiga bulan hingga akhir tahun, dan jadi di sana kita melihat rupiah kira-kira stabil, mungkin sedikit lebih lemah, tetapi tidak banyak. Namun ini lebih merupakan cerminan dari kekuatan dolar daripada pada dasarnya kelemahan rupiah,” ujarnya.

Frederic mengatakan level sekitar Rp 18.000 per dolar AS menjadi target yang masuk akal hingga akhir tahun. “Jadi jika Anda menanyakan target kepada saya, sekitar 18 ribu, misalnya, itu akan menjadi target,” katanya.

Namun, kondisi tersebut berpotensi berbalik pada tahun depan apabila dolar AS mulai melemah. Pelemahan dolar AS dapat memberikan dorongan bagi rupiah. “Tahun berikutnya, itu bisa sangat berubah, karena pada saat tertentu, dolar akan berubah, dan kemudian rupiah akan mendapat dorongan,” ujarnya.

Frederic menilai tekanan spesifik terhadap rupiah yang terjadi pada awal tahun telah mereda. Stabilitas tersebut antara lain ditopang langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga secara agresif. “Pesan utamanya di sini adalah tidak lagi ada kelemahan rupiah yang spesifik yang kita miliki awal tahun. Itu telah teratasi,” katanya.

Menurut Frederic, BI saat ini hampir mencapai akhir siklus pengetatan moneter. HSBC memperkirakan BI hanya akan menaikkan suku bunga satu kali lagi sebelum mengakhiri siklus tersebut. “Kita hampir di akhir siklus moneter di Indonesia. Kami berpikir ada satu lagi kenaikan yang akan datang pada tahun ini, tapi kemudian itu adalah penghujung siklus,” ujarnya.

Frederic menambahkan stabilitas rupiah mulai diikuti kembalinya arus modal ke Indonesia. HSBC memperkirakan pergerakan rupiah pada 2027 akan berada dalam kisaran yang relatif sempit.

Di sisi lain, dia menilai fokus ekonomi Indonesia ke depan akan bergeser dari persoalan makroekonomi menuju reformasi struktural, seperti infrastruktur, pendidikan, regulasi, dan energi.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi