Senin 28 Sep 2026 14:55 WIB

Rupiah Kembali Dekati Level Rp 18.000, Ekonom: Faktor Kenaikan Bond Yield Global 

Rupiah cenderung mengalami tren pelemahan, setidaknya dalam sepekan terakhir.

Rep: Eva Rianti/ Red: Gita Amanda
Pada Senin (28/9/2026) pukul 12.55 WIB, rupiah terpantau melemah 70 poin atau 0,39 persen menuju level Rp 17.973 per dolar AS. (ilustrasi)
Foto: Republika/Prayogi
Pada Senin (28/9/2026) pukul 12.55 WIB, rupiah terpantau melemah 70 poin atau 0,39 persen menuju level Rp 17.973 per dolar AS. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah kembali mendekati level psikologisnya di Rp 18.000 per dolar AS pada awal pekan ini. Ekonom menilai, pelemahan Mata Uang Garuda terjadi lantaran kenaikan imbal hasil obligasi global atau bond yield global. 

Mengutip Bloomberg, pada Senin (28/9/2026) pukul 12.55 WIB, rupiah terpantau melemah 70 poin atau 0,39 persen menuju level Rp 17.973 per dolar AS. Rupiah cenderung mengalami tren pelemahan, setidaknya dalam sepekan terakhir. 

Baca Juga

“Menurut analisis saya, sentimen terkuat pelemahan rupiah saat ini justru datang dari kenaikan bond yield global, terutama di tenor panjang,” kata Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian saat dihubungi Republika, Senin (28/9/2026). 

Fakhrul menjelaskan, yield US treasury 10 tahun dalam beberapa pekan terakhir bergerak di sekitar 4,9–5 persen, bahkan sempat menyentuh sekitar 5,03 persen. Hal itu dinilai penting karena ketika yield obligasi pemerintah AS naik, hurdle rate atau tingkat pengembalian minimum investor global ikut naik. 

“Investor menjadi lebih selektif terhadap aset emerging market, termasuk obligasi Indonesia. Artinya, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak bisa hanya dibaca sebagai persoalan domestic interest-rate differential,” tuturnya. 

Ia menuturkan, saat ini Indonesia memang sedang menghadapi kenaikan global term premium, atau imbal hasil tambahan yang diminta investor karena memilih memegang obligasi jangka panjang dibandingkan serangkaian jangka pendek. 

“Kalau investor bisa mendapatkan yield hampir 5 persen dari US treasury dengan risiko yang sangat rendah, aset Indonesia harus menawarkan kompensasi yang lebih besar, baik melalui yield yang lebih tinggi maupun ekspektasi nilai tukar yang lebih stabil,” jelasnya. 

Hal itu disebut sudah mulai terlihat di pasar domestik. Yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun Indonesia kembali bergerak ke kisaran 7,08 persen pada 25 September 2026. Angka tersebut meningkat dari posisi sekitar 6,96 persen pada akhir Agustus 2026.

“Jadi menurut saya, rupiah yang kembali mendekati Rp 18.000 bukan hanya persoalan dolar menguat. Ini merupakan bagian dari repricing terhadap harga modal global,” tegasnya. 

Berita Lainnya

Rekomendasi