Senin 28 Sep 2026 22:59 WIB

BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh Sekitar 5,2—6 Persen di 2027 

BI memprediksi kondisi ekonomi global dan domestik tahun depan membaik.

Rep: Eva Rianti/ Red: Gita Amanda
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mengalami peningkatan pada 2027 hingga mencapai 6 persen. (ilustrasi)
Foto: Eva Rianti/Republika
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mengalami peningkatan pada 2027 hingga mencapai 6 persen. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mengalami peningkatan pada 2027 hingga mencapai 6 persen. Proyeksi tersebut didorong oleh sektor investasi yang bakal digencarkan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Nusantara) pada tahun depan. 

“Dari Bank Indonesia, kami perkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh di level 4,9-5,7 persen untuk tahun 2026, dan akan meningkat di level 5,2—6 persen di tahun 2027, dengan asumsi tentunya kita berharap kenaikan investasi swasta yang juga termasuk dalam hal ini adalah investasi dari Danantara,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (28/9/2026). 

Baca Juga

Destry menjelaskan, BI memprediksi kondisi ekonomi, baik global maupun domestik pada tahun depan akan membaik, setelah berhasil melewati tahun 2026 yang cenderung dipenuhi dengan tren higher for longer. 

“Prospek ekonomi 2026 ini secara global memang agak gloomy (suram), namun demikian di 2027 diperkirakan akan akan perbaikan, dan juga dari beberapa lembaga internasional, termasuk kami juga melihat bahwa 2027 secara global akan lebih baik dibandingkan dengan posisi di 2026,” tuturnya. 

Destry menerangkan, mengenai tantangan dari ekonomi global, bahwa ada beberapa lingkungan strategis global maupun domestik memang akan mewarnai arah kebijakan BI ke depan. Diantaranya mengenai konflik geopolitik, yang mana diimbangi dengan adanya kebijakan moneter global yang ketat dan flight to quality, akan memengaruhi kinerja neraca pembayaran Indonesia, termasuk stabilitas nilai tukar. 

Kondisi itu tak lain disebut dengan fenomena higher for longer, yang pada akhirnya memberikan tekanan kepada emerging market, termasuk Indonesia, khususnya mengenai aliran modal. 

Kemudian juga tantangan mengenai kenaikan harga minyak dunia yang bahkan kembali menembus level 100 dolar AS per barel. Juga tantangan tingginya inflasi global yang kemudian mendorong mengetatnya kebijakan moneter global. 

Di samping itu, kebijakan suku bunga The Fed juga masih terus membayangi. Penguatan indeks dolar AS, imbas kebijakan tersebut, pada hilirnya akan menciptakan pelarian arus modal dari emerging market kepada developed countries, khususnya terhadap AS. 

“Dari sisi domestik, yang perlu kita waspadai dan menjadi dasar dari arah kebijakan kami ke depan adalah perlu didorong penguatan terhadap sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, di tengah risiko inflasi dan nilai tukar yang memang perlu kita waspadai,” tuturnya. 

Oleh karena itu, BI merespons tantangan tersebut melalui bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi, selaras dengan kerangka kebijakan moneter yang diarahkan untuk lebih pro-stability. Serta kebijakan lainnya yakni makroprudensial dan sistem pembayaran diarahkan untuk lebih mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth). 

Berita Lainnya

Rekomendasi