REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Transformasi pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) melalui Danantara membuka peluang bagi laba dan aset negara untuk menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas. Pengamat ekonomi Satria Aji Imawan menilai, perubahan pendekatan tata kelola BUMN dapat mendorong aset negara dikelola lebih profesional, produktif, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.
Satria mengatakan, capaian laba gabungan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar Rp39,92 triliun pada kuartal I 2026 menjadi sinyal positif bagi transformasi BUMN. Menurutnya, kinerja tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional. “Untuk BUMN, yang lebih tepat adalah value maximization for the state and society,” ujar Satria dalam keterangan yang diterima pada Kamis (20/6/2026).
Satria menilai, pendekatan Danantara membawa perubahan dari pola pengelolaan aset yang sebelumnya lebih administratif menuju portfolio governance dan value creation. Dengan pendekatan tersebut, BUMN tidak hanya dilihat sebagai entitas milik negara, tetapi sebagai aset strategis yang dapat dioptimalkan untuk menciptakan nilai ekonomi dan sosial.
Menurut Satria, laba BUMN dapat menjadi instrumen untuk memperbesar kapasitas negara dalam menggerakkan sektor riil, memperkuat daya saing nasional, serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Karena itu, laba seharusnya ditempatkan sebagai instrumen, bukan tujuan akhir, untuk memperbesar kapasitas negara dalam menggerakkan sektor riil, memperkuat daya saing nasional, dan memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan momentum pidato Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan RAPBN 2027 dan Nota Keuangan pada Jumat (14/8), yang menekankan transformasi ekonomi dan penguatan kapasitas nasional untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi. Optimalisasi aset negara melalui BUMN pun memiliki ruang untuk memperkuat agenda tersebut melalui investasi, produktivitas, dan pengembangan sektor-sektor strategis.
Satria mengatakan, ukuran keberhasilan transformasi BUMN ke depan tidak hanya terlihat dari pertumbuhan laba. Kinerja juga dapat tercermin dari semakin produktifnya aset, meluasnya akses pembiayaan, berkembangnya sektor prioritas, terciptanya lapangan kerja, serta meningkatnya manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Benchmark keberhasilan Danantara bukan hanya ukuran neraca, tapi juga perubahan kualitas tata kelola negara dalam mengelola aset publik,” katanya.
Dalam pengelolaannya, Satria menilai pendekatan centralized strategy, decentralized execution dapat menjaga keseimbangan antara strategi korporasi dan fleksibilitas operasional. Danantara dapat menetapkan arah besar, termasuk alokasi modal, manajemen risiko, efisiensi, transformasi digital, dan sinergi bisnis, sementara pelaksanaan operasional tetap menyesuaikan karakter masing-masing BUMN.
Ke depan, Satria melihat pola tata kelola sektor keuangan dapat menjadi benchmark bagi transformasi BUMN di sektor lain, termasuk energi dan infrastruktur. Prinsip seperti profesionalisme, performance-based management, optimalisasi aset, disiplin alokasi modal, digitalisasi, transparansi, dan sinergi lintas BUMN dinilai dapat memperkuat kinerja korporasi negara.
Dengan pendekatan tersebut, transformasi BUMN melalui Danantara berpeluang tidak hanya meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi juga memperbesar kontribusi aset negara terhadap pertumbuhan ekonomi. Target akhirnya adalah membangun BUMN yang semakin produktif dan kompetitif sekaligus mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi negara dan masyarakat.