REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan mempercepat peningkatan kapasitas layanan KRL lintas Tanah Abang-Rangkasbitung atau Green Line. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan sistem kelistrikan dan modernisasi persinyalan guna mengurangi kepadatan penumpang dan memperpendek waktu tunggu kereta.
VP Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan KAI dan DJKA tengah mempersiapkan sarana serta infrastruktur pendukung untuk memungkinkan pengoperasian KRL dengan rangkaian 12 kereta (SF12) di lintas tersebut.
"Kita ada uji coba SF12 (KRL dengan 12 rangkaian) kemarin," ujar Anne saat peluncuran Space by KAI di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Anne menjelaskan penguatan sistem Listrik Aliran Atas (LAA) pada lintas Tanah Abang-Rangkasbitung telah dilakukan. KAI berharap peningkatan kapasitas angkut maupun pengurangan headway dapat direalisasikan dalam tahun ini.
"Kita upayakan ya, kalau misalkan memang gardunya sudah mencukupi, misalkan berapa kereta SF-12 yang bisa kita jalankan atau mungkin memperpendek headway," kata Anne.
Sebelumnya, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan tingginya kepadatan penumpang di Green Line dipengaruhi keterbatasan kapasitas infrastruktur dan pasokan listrik yang tersedia saat ini. Daya listrik pada lintas Tanah Abang-Rangkasbitung masih berada di level 3.000 volt, sementara lintas Bogor dan Bekasi telah didukung kapasitas 4.000 volt.
"Perbedaan kapasitas tersebut menyebabkan rangkaian dengan stamformasi 12 kereta belum dapat dioperasikan sehingga kapasitas angkut masih bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta," ujar Bobby.
Untuk mengatasi kendala tersebut, KAI akan menambah 11 gardu traksi di lintas Tanah Abang-Rangkasbitung. Penambahan gardu diharapkan dapat memperkuat pasokan listrik sehingga mendukung operasional rangkaian 12 kereta dengan kapasitas angkut yang lebih besar.
Menurut Bobby, peningkatan kapasitas tersebut diharapkan mampu mengurangi kepadatan penumpang, terutama pada jam sibuk, sekaligus meningkatkan kenyamanan perjalanan masyarakat di wilayah barat Jabodetabek.
"Peningkatan kapasitas tersebut dilaksanakan melalui koordinasi dan sinergi antara KAI dan DJKA Kementerian Perhubungan sebagai regulator perkeretaapian nasional," katanya.
Selain penguatan sistem kelistrikan, KAI dan DJKA juga menyiapkan modernisasi sistem persinyalan. Saat ini sebagian lintas Rangkasbitung masih menggunakan sistem blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintasan operasi.
"Kondisi tersebut berdampak pada headway perjalanan yang saat ini berada pada kisaran 10 menit," ujar Bobby.
Sebagai perbandingan, lintas KRL Bogor dan Bekasi telah mampu melayani perjalanan dengan headway sekitar tiga hingga empat menit. Melalui pembaruan sistem persinyalan, kapasitas lintas diharapkan meningkat sehingga frekuensi perjalanan dapat ditambah dan waktu tunggu penumpang menjadi lebih singkat.
"Peningkatan frekuensi perjalanan akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi masyarakat dalam menentukan waktu keberangkatan maupun kepulangan," kata Bobby.