Jumat 08 May 2026 09:58 WIB

Rupiah Tertinggal dari Baht dan Ringgit, Pengamat Soroti Struktur Industri RI

Sejak 2022 hingga 2026, mata uang rupiah trennya konsisten melemah terhadap dolar AS.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Friska Yolandha
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tren pergerakan rupiah terhadap dolar AS dalam lima tahun terakhir terlihat berbeda dibandingkan mata uang utama ASEAN lainnya. Saat baht Thailand dan ringgit Malaysia mulai menguat sejak awal 2025, rupiah justru masih bergerak melemah.

Pengamat ekonomi Muhammad Syarkawi Rauf menilai kondisi tersebut tidak sekadar dipengaruhi sentimen pasar jangka pendek, melainkan berkaitan dengan struktur ekonomi Indonesia.

Baca Juga

“Sejak 2022 hingga 2026, mata uang rupiah trennya konsisten melemah terhadap dolar AS. Sebaliknya, sejak Januari 2025, baht dan ringgit trennya berubah menjadi menguat,” kata Syarkawi, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, dalam pesan singkat kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).

Menurut dia, Thailand dan Malaysia memiliki basis manufaktur ekspor yang lebih kuat sehingga aliran devisanya lebih stabil. Sementara Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas dan manufaktur berteknologi rendah.

Syarkawi mengatakan kontribusi sektor manufaktur Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) kini tinggal sekitar 19 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan Malaysia dan Thailand yang masih berada di kisaran 23-24 persen.

Vietnam juga dinilai mulai melesat sebagai basis manufaktur baru di Asia Tenggara. Kontribusi sektor manufaktur Vietnam disebut mencapai sekitar 24,48 persen terhadap PDB, ditopang industri berorientasi ekspor, terutama elektronik.

“Vietnam berhasil membangun manufaktur berorientasi ekspor. Sementara Indonesia masih dominan pada komoditas dan manufaktur berteknologi rendah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ekspor Indonesia yang masih didominasi produk mineral dan pertanian. Kondisi itu berbeda dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang mulai bertumpu pada ekspor elektronik dan permesinan.

Menurut Syarkawi, transformasi industri Indonesia menuju produk teknologi tinggi belum berjalan optimal. Bahkan, kandungan teknologi tinggi dalam ekspor manufaktur Indonesia disebut terus menurun.

 

“Transformasi ke produk high-tech tidak jalan. Kita masih terjebak pada ekspor manufaktur berteknologi rendah,” kata dia.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement