REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah tidak hanya mengalami tren pelemahan terhadap dolar AS. Ekonom turut menyoroti terkoreksinya rupiah terhadap mata uang negara tetangga, misalnya terhadap dolar Singapura. Mengutip Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp 13.928,88 per dolar Singapura pada perdagangan Rabu (27/5/2026).
Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, selama ini narasi yang mendominasi ruang publik mengenai fluktuasi nilai tukar selalu berkutat pada keperkasaan dolar AS (greenback). Hingga seolah masyarakat terbiasa memaklumi pelemahan rupiah dengan dalih kebijakan high for longer dari The Fed atau ketegangan geopolitik global yang memicu aset safe haven.
“Namun, jika kita menoleh sedikit ke arah Selat Malaka, ada realitas yang jauh lebih mengkhawatirkan, karena rupiah tidak hanya bertekuk lutut di hadapan Washington, tetapi juga kian tak berdaya melawan Singapura,” kata Rahma dalam keterangannya saat dikonfirmasi Republika, Rabu (27/5/2026).
Ia menerangkan, data menunjukkan tren yang konsisten, yakni dolar Singapura terus merangkak naik dan mencetak rekor baru terhadap mata uang Garuda.
“Fenomena ini membuktikan bahwa masalah yang dihadapi rupiah bukan sekadar soal dominasi global AS, melainkan adanya divergensi kekuatan ekonomi yang nyata di level regional,” ungkapnya.
Menurut Rahma, ada tiga alasan rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Singapura yang dipandang sebagai alarm bagi Indonesia. Pertama, Singapura bukan sekadar tetangga, melainkan pusat finansial regional karena memiliki hubungan perdagangan dan finansial utama bagi Indonesia. Pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura berdampak langsung pada biaya logistik, impor jasa, hingga transaksi korporasi.
Kedua, kebijakan moneter yang kontras dengan Bank Indonesia (BI). Jika BI menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama, Otoritas Moneter Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) menggunakan nilai tukar sebagai alat kendali inflasi.
“Strategi ini membuat dolar Singapura menjadi salah satu mata uang paling tangguh di dunia, yang secara tidak langsung ‘menghukum’ mata uang yang fundamentalnya kurang stabil,” tuturnya.
Ketiga, sentimen psikologis dan riil. Bagi masyarakat kelas menengah Indonesia, Singapura merupakan destinasi pendidikan, kesehatan, dan pariwisata. Ketika rupiah terjepit di bawah bayang-bayang dolar Singapura, biaya hidup dan akses terhadap layanan berkualitas di tingkat regional menjadi kian tak terjangkau.