REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia memutar otak dalam menanggapi dampak kenaikan harga energi, imbas eskalasi perang di Timur Tengah. Diantaranya melakukan evaluasi terhadap program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Yakni meniadakan pemberian MBG pada hari Sabtu dan menghapuskan pemberian MBG pada saat liburan sekolah.
Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agug mengakui ada potensi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin melebar karena harga minyak dunia mengalami kenaikan.
Dalam asumsi makro APBN 2026, Pemerintah menetapkan asumsi harga minyak sepanjang tahun yakni 70 dolar AS per barel, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) solar sebesar Rp 6.800 per liter, dan harga pertalite Rp 10.800 per liter. Dengan asumsi tersebut, defisit anggarannya adalah 2,68 persen.
Lantas, pada Maret 2026 konflik pecah di kawasan Timur Tengah antara Iran vs AS-Israel. Harga ICP (Indonesia Crude Price) naik, bahkan bertengger di sekitar 100 dolar AS per barel. Menurut perhitungan Juda, rata-rata harga ICP selama Januari hingga akhir April 2026 menyentuh sekitar 79,80 dolar AS per barel.
“Artinya apa? Ada kelebihan atau pelampauan dari asumsi yang 70 dolar AS per barel. Bagaimana respons kita? Respons Pemerintah adalah bahwa harga BBM tidak naik yang disubsidi. Harganya tetap. Tentu saja kalau harga tetap, harga keekonomiannya naik, dan subsidinya membengkak. Subsidi membengkak sehingga kalau didiamkan, maka tentu saja defisit kita bisa di atas 3 persen, kalau didiamkan. Itu asumsi kalau ICP-nya rata-rata sepanjang tahun adalah 100 dolar AS per barel,” ungkap Juda dalam agenda Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (Pinisi) di Kompleks Bank Indonesia (BI), Jakarta, Senin (27/4/2026).
Ia menerangkan, Pemerintah tentu saja tidak tinggal diam. Terutama, Pemerintah memastikan akan menjaga daya beli masyarakat. Caranya diantaranya ialah dengan menjaga tingkat inflasi agar tidak terkerek tinggi.
Di samping itu, Pemerintah juga tidak menutup diri untuk melakukan langkah-langkah yang lebih strategis dalam menghadapi potensi defisit yang melebar. Yakni dengan melakukan refocusing.