REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat penurunan laba bersih sekitar 38 persen secara tahunan (year-on-year) pada 2025, meski tetap membukukan keuntungan sebesar 2,53 miliar dolar AS di tengah dinamika operasional dan produksi.
Berdasarkan laporan keuangan audited 2025, laba bersih Freeport Indonesia tercatat sebesar 2,53 miliar dolar AS, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,13 miliar dolar AS. Sementara itu, pendapatan bersih perusahaan tercatat sebesar 8,62 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai 10,31 miliar dolar AS.
Meski mengalami penurunan, Freeport tetap mencatat kinerja operasional yang kuat dengan laba operasional sebesar 3,78 miliar dolar AS dan laba sebelum pajak sebesar 3,77 miliar dolar AS. Hal ini menunjukkan fundamental bisnis perusahaan yang masih terjaga di tengah fluktuasi industri tambang global.
Kontribusi Freeport terhadap negara dan daerah juga tetap signifikan. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat kewajiban penerimaan negara bukan pajak sebesar 4 persen dari laba atau sekitar 112,4 juta dolar AS, serta kontribusi kepada pemerintah daerah sebesar 6 persen atau sekitar 168,6 juta dolar AS. Total kontribusi langsung berbasis laba tersebut mencapai sekitar 281 juta dolar AS.
Selain itu, Freeport juga terus menjalankan komitmen sosial melalui program investasi sosial dengan nilai mencapai 86,2 juta dolar AS. Program ini mencakup berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Dari sisi operasional, Freeport juga mencatat tonggak penting dengan beroperasinya fasilitas hilirisasi berupa smelter dan Precious Metals Refinery (PMR) pada 2025. Kehadiran fasilitas ini memperkuat posisi perusahaan sebagai produsen terintegrasi dari hulu hingga hilir, sekaligus mendukung kebijakan hilirisasi mineral nasional.
Di sisi tenaga kerja, Freeport menyerap lebih dari 34 ribu tenaga kerja yang terdiri atas karyawan langsung dan tenaga kerja kontraktor. Hal ini menjadikan perusahaan sebagai salah satu penggerak utama ekonomi di wilayah operasional, khususnya di Papua.
Ke depan, Freeport Indonesia menargetkan peningkatan produksi seiring dengan rencana pemulihan operasi tambang bawah tanah secara bertahap, serta optimalisasi fasilitas hilirisasi yang telah beroperasi.