Rabu 14 May 2025 02:42 WIB

Rp 80 Ribuan Per Kilogram, Petani Lada Hitam di Lampung Tersenyum Panen Hingga Beberapa Ton

Petani lada hitam di Lampung dapat merenovasi rumah dari hasil panen.

Pekerja mengemas lada hitam di Billiton Spice di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, Senin (23/5/2022). Billiton Spice merupakan salah satu dari lima UMKM juara pada kegiatan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang mendapatkan pelatihan strategi promosi untuk meningkatkan penjualan di tingkat Nasional dan Internasional.
Foto: ANTARA/Fakhri Hermansyah
Pekerja mengemas lada hitam di Billiton Spice di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, Senin (23/5/2022). Billiton Spice merupakan salah satu dari lima UMKM juara pada kegiatan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang mendapatkan pelatihan strategi promosi untuk meningkatkan penjualan di tingkat Nasional dan Internasional.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGGAMUS -- Pagi menjelang siang itu, cuaca mendung di Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Aliran listrik PLN sempat terhenti, menyusul hujan disertai angin kencang yang terjadi malam sebelumnya menumbangkan beberapa pepohonan dan mengganggu jaringan listrik.

Hingga pertemuan petani pembudidaya lada hitam Lampung dengan mitra mereka nyaris usai lewat tengah hari, aliran listrik ternyata belum juga pulih.

Baca Juga

Namun para petani pembudidaya lada hitam Lampung itu dengan bersemangat tetap melaksanakan pertemuan mereka dengan mitra dan pendamping Program Lada Lestari Lampung (3L) yang diinisiasi Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Keith Spicer/Harris Spice, bersama PT Mitra Agro Usaha Perkebunan (MAUP), serta didukung stakeholders lainnya.

GIZ adalah perusahaan kerja sama internasional untuk pembangunan berkelanjutan yang beroperasi di lebih dari 130 negara atas nama Pemerintah Federal Jerman.

Keith Spicer Ltd/Harris Spice adalah pemimpin global dalam pembuatan, pemasaran dan distribusi teh, rempah-rempah, jamu dan bumbu, serta perisa/perasa lainnya, untuk industri makanan dan merupakan bagian dari Harris Freeman Group.

Misinya adalah untuk mendapatkan dan mendistribusikan rempah-rempah dan rempah-rempah terbaik, dengan cara yang aman, terjamin, dan berkelanjutan.

GIZ bekerja sama dengan Keith Spicer/Harris Spice telah memulai proyek lada organik di Indonesia. Proyek ini menawarkan model kemitraan pemerintah dengan swasta terkait pertanian, peningkatan pasar, serta pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan pada subsektor lada.

Proyek bersama ini menghubungkan keahlian yang ditawarkan oleh kedua belah pihak. Keith Spicer Ltd/Harris Spice menghadirkan pengetahuan khusus industri, teknologi baru, dan pendekatan kreatif. Sedangkan GIZ menyediakan keahlian kebijakan pembangunan, staf terampil di bidangnya, dan jaringan global yang mencakup pembuat kebijakan, sektor swasta, dan masyarakat sipil.

Dalam penelitiannya berjudul Peningkatan Daya Sang Lada (Piper nigrum L) Melalui Budi daya Organik oleh Agus Kardinan, I Wayan Laba, dan Rismayani dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (2018), menyatakan bahwa lada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan penghasil devisa terbesar ketujuh pada kelompok tanaman perkebunan.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement