Kamis 03 Apr 2025 18:25 WIB

Ancaman Tarif AS, Ekonom: Relokasi Pabrik dan Reformasi Regulasi Jadi Solusi

Kuncinya di regulasi yang konsisten, efisiensi perizinan dan kesiapan SDM.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda
Trump mengangkat poster yang menampilkan tarif yang dikenakan untuk berbagai negara saat pengumuman di Gedung Putih, Rabu (3/4/2025).
Foto: Carlos Barria/Reuters
Trump mengangkat poster yang menampilkan tarif yang dikenakan untuk berbagai negara saat pengumuman di Gedung Putih, Rabu (3/4/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Genderang perang dagang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Presiden dari Partai Republik itu memberlakukan serangkaian tarif timbal balik untuk mengimbangi bea masuk yang dikenakan negara lain terhadap barang-barang AS. Trump bahkan mengenakan tarif dagang terbaru sebesar 32 persen ke Indonesia.

Menghadapi dampak dari kebijakan kenaikan tarif resiprokal tersebut, Indonesia harus segera menyiapkan langkah strategis untuk bertahan. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, solusi utama Indonesia adalah mempercepat relokasi pabrik dan reformasi regulasi.

Baca Juga

"Kunci Indonesia saat ini adalah bersiap lomba kejar peluang relokasi pabrik, dan tidak cukup hanya bersaing dari selisih tarif resiprokal Indonesia yang lebih rendah dari Vietnam dan Kamboja. Kuncinya di regulasi yang konsisten, efisiensi perizinan, tidak ada RUU yang buat gaduh (RUU Polri dan RUU KUHAP ditunda dulu), kesiapan infrastruktur pendukung kawasan industri, sumber energi terbarukan yang memadai untuk pasok listrik ke industri, dan kesiapan sumber daya manusia," jelas Bhima kepada Republika, Kamis (3/4/2025).

Menurut Bhima, faktor-faktor tersebut jauh lebih penting karena Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan insentif fiskal berlebihan dengan adanya Global Minimum Tax. "Sebelumnya, Indonesia tarik investor dengan tax holiday dan tax allowances, sekarang saatnya perbaiki daya saing yang fundamental," tambahnya.

Indonesia perlu mengedepankan kebijakan yang memberikan kepastian dan mendorong efisiensi, mengingat tantangan global yang semakin kompleks. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Indonesia diharapkan dapat lebih siap menghadapi dampak dari kebijakan proteksionis negara-negara besar seperti AS.

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement