Selasa 16 Apr 2024 13:35 WIB

Airlangga: Konflik Iran-Israel Picu Lonjakan Harga Minyak

Dari segi pasar keuangan, dolar index menguat di tengah rilis ekonomi Amerika.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Lida Puspaningtyas
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Foto: Republiika/Febryan A
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, harga minyak dunia mengalami lonjakan imbas serangan Israel ke Kedutaan Iran di Damaskus serta retaliasi Iran.

Ia menekankan, dari segi ekonomi, keberadaan Laut Merah dan Selat Hormuz penting karena menjadi lintasan utama bagi 27 ribu kapal minyak di Laut Merah dan 33 ribu kapal minyak di Selat Hormuz.

Baca Juga

"Dan peningkatan freight cost (biaya pengiriman) menjadi salah satu yang harus dimitigasi," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden terkait konflik Iran-Israel, Selasa (16/4/2024).

Menurut Airlangga, eskalasi ketegangan di Timur Tengah tersebut meningkatkan ketidakpastian global. Selain itu, ia juga menekankan perlunya mitigasi terkait beralihnya aset ke safe heaven, serta kenaikan harga emas, nikel, dan nilai dolar AS.

"Dari segi pasar keuangan, dolar index menguat di tengah rilis ekonomi Amerika yang menguat," kata Airlangga.

Selain itu, nilai tukar dan IHSG mengalami pelemahan secara global. Namun Indonesia dibandingkan peer countries dinilai relatif masih aman.

Secara fundamental, kata Airlangga, perekonomian Indonesia tumbuh solid 5 persen, dengan inflasi 2,5 plus minus 1 persen. Sedangkan neraca dagang mengalami surplus dan cadangan devisa masih sekitar 136 miliar dolar AS.

Ia melanjutkan, pemerintah akan melakukan beberapa kebijakan, antara lain bauran fiskal dan moneter, menjaga stabilitas nilai tukar, menjaga APBN, dan memonitor kenaikan harga logistik dan minyak.

Airlangga mengatakan, di sektor riil, dampak depresiasi nilai tukar dan kenaikan menjadi salah satu yang diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap impor dan efek eksportir mendapatkan devisa lebih banyak.

Karena itu, menyikapi kondisi dunia saat ini, pemerintah akan terus menjaga reformasi struktural dan ekspektasi investor, memperkuat daya saing, dan juga menarik investasi jangka panjang ke Indonesia.

"Tentu nanti berbagai skenario sudah dibahas tentunya menjaga agar defisit berada di rentang yang diperbolehkan UU," lanjutnya.

Pemerintah, kata Airlangga, menekankan agar semua pihak bisa menahan diri untuk menurunkan ketegangan di Timur Tengah. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga menyampaikan pesan Presiden Jokowi agar Indonesia terus melakukan upaya diplomatik agar pihak terkait menahan diri dan menghindari peningkatan ketegangan.

"Jadi sekarang masing-masing pihak teman-teman sudah mulai menghitung jika terjadi eskalasi maka dampaknya seperti apa terhadap masing-masing negara. Baik harga minyak, harga kebutuhan yang lain, maupun nilai tukar dolar dsb," ujar Menlu Retno.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement