Jumat 19 Jan 2024 18:09 WIB

Pemilu Diprediksi Aman, Ekonomi Jatim 2024 Diyakini Tumbuh 5 Persen

Kadin menyebut tiga sektor utama menjadi penopang ekonomi Jatim

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Pedagang menata dagangannya di grosir sayur pasar Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.
Foto: Antara/Umarul Faruq
Pedagang menata dagangannya di grosir sayur pasar Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pelaku usaha di Jawa Timur optimistis Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 bisa terlaksana dengan damai dan aman, sehingga tidak akan mengganggu kinerja ekonomi di wilayah setempat. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Adik Dwi Putranto mengatakan, kondisi Jatim relatif stabil dan terkendali karena karakteristik masyarakatnya yang cenderung terbuka, logis, berpikiran luas, dan selalu menjaga kekompakan.

Optimisme tersebut juga berkaca dari pengalaman Pemilu pada 2014 dan 2019, dimana Jatim menjadi pertarungan terakhir antara Capres-Cawapres yang berkontestasi. Saat itu, pesta demokrasi di Jatim juga bisa terlaksana dengan damai, tanpa ada kericuhan.

"Kita bisa berkaca pada beberapa Pemilu yang telah lalu, Jatim menjadi pertarungan terakhir. Dan saat itu, kondisi stabil, ekonomi juga bagus. Jadi optimisnya, dengan melihat kondisi nasional dan global, ekonomi Jatim di 2024 bakal tumbuh di angka 5 persen" kata Adik di Surabaya, Jumat (19/1/2024).

Wakil Ketua Umum Kadin Jatim bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri, Tomy Kaihatu menjelaskan, tiga sektor utama yang menjadi penopang ekonomi Jatim yaitu perdagangan, manufaktur, dan pertanian. Ketiga leading sektor ini pada kuartal III/2023 masih naik secara YoY, dan hanya ekspor yang turun.

 

"Ada sejumlah kondisi global yang masih harus diwaspadai di tahun ini karena bisa menggerus realisasi ekspor Indonesia, termasuk Jatim," ujar Tomy.

Pertama, kata Tomy, kondisi ekonomi dunia hingga saat ini masih lesu, dimana daya beli masih belum menguat, khususnya negara ekspor tradisional. Tantangan itu diperburuk juga dengan Uni Eropa yang cenderung menolak barang dari Indonesia akibat dari kebijakan Indonesia melarang ekspor mineral mentah.

"Jadi ceritanya kita dibalas dengan cara memberi persyaratan lebih tinggi," ujarnya.

Belum lagi, lanjut Tomy, perang Rusia dan Ukraina yang memicu terjadinya krisis pangan dan perang Timur Tengah yang memberikan potensi krisis energi. Ia menjelaskan, ketika pangan atau sembako dan minyak tidak bisa dikendalikan, maka harga akan naik karena suplai kurang.

"Maka belanja rumah tangga akan diprioritaskan pada kedua hal tersebut dan tidak ada alokasi untuk belanja lain-lain," kata dia.

Untuk menyiasati lesunya ekspor, Tomy mengatakan, ada dua strategi yang harus dilakukan Jatim agar ekonomi bisa tetap tumbuh sebesar 5 persen. Pertama, mencari negara tujuan ekspor lain dengan membuka pasar ekspor baru yang masih memiliki daya beli yang bagus.

"Yaitu negara dengan pertumbuhan ekonominya yang mencapai di atas 3 persen seperti Korea Selatan, Jepang, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Barat, Afrika Utara, Afrika Selatan, dan Amerika latin. Itu yang harus dikejar," ucapnya.

Strategi kedua adalah dengan melakukan optimalisasi perdagangan antar provinsi. Menurutnya, untuk menutupi devisit ekspor luar negeri masih bisa dengan perdagangan antarprovinsi, meskioun naiknya tidak akan signifikan.

"Intinya kita bisa menjaga neraca ekspor dengan impor sehingga tidak berpengaruh negatif pada kinerja ekonomi. Sebab kondisi fundamental ekonomi Jatim memang sangat kuat," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement