Jumat 01 Dec 2023 22:59 WIB

Efek Nataru, Indeks Kepercayaan Industri Naik Jadi 52,43

Peningkatan IKI kali ini didukung oleh tiga poin utama.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ahmad Fikri Noor
Ilustrasi industri manufaktur.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ilustrasi industri manufaktur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, persiapan perayaan Natal serta libur akhir tahun mendorong industri pengolahan bangkit atau rebound pada November 2023. Itu tampak dari Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mengalami peningkatan, terutama pada Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI).

Permintaan pemenuhan pesanan pada akhir tahun juga diduga mendorong peningkatan ketersediaan lapangan pekerjaan. Kondisi itu tecermin juga pada peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Oktober 2023 yang meningkat menjadi 124,3 dibandingkan September 2023. 

Baca Juga

Sementara, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis oleh Kementerian Perindustrian pada November 2023 menunjukkan angka 52,43, meningkat 1,73 poin dibandingkan Oktober 2023. Disebutkan, peningkatan IKI kali ini didukung oleh tiga poin utama, yaitu peningkatan produksi dan permintaan, penguatan nilai tukar rupiah, serta faktor musiman untuk persiapan akhir tahun atau Natal dan Tahun Baru.

"Peningkatan IKI dipengaruhi oleh meningkatnya nilai IKI pada 15 subsektor. Sebanyak 13 subsektor di antaranya mengalami rebound setelah sebelumnya mengalami perlambatan maupun kontraksi,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif saat rilis IKI November 2023 di Jakarta, Kamis (30/11/2023).

 

Menurutnya, nilai IKI pada November 2023 ini seharusnya bisa lebih tinggi apabila program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) berjalan baik. Selain itu, pengendalian impor dan penegakan hukum atas produk impor ilegal juga perlu berjalan efektif.

“Karenanya, perlu penguatan koordinasi dan sinergi lintas Kementerian dan Lembaga sebagai tindak lanjut,” ujar dia.

Selanjutnya, pada IKI November ini, peningkatan terbesar dialami oleh industri mesin dan perlengkapan ytdl naik 9,37 yang sebelumnya mengalami penurunan terbesar 10,26. 

Lalu 12 subsektor yang mengalami rebound yaitu Industri Pengolahan Tembakau, Industri Pakaian Jadi, Industri Barang Logam, Bukan mesin, dan Peralatannya, Industri kulit, Barang dari Kulit Dan Alas Kaki, Industri Kertas dan Barang Kertas, Industri Percetakan dan Repro Media Rekaman, Industri Pengolahan Lainnya, Industri farmasi, Obat Kimia dan Tradisional, Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semitrailer, Industri Karet, Barang Karet dan Plastik, dan Industri Logam Dasar. Sedangkan, dua sektor lainnya yang mengalami peningkatan nilai IKI dalam dua bulan berturut-turut adalah Industri Minuman dan Industri Furnitur.

Dijelaskan, peningkatan IKI industri furnitur didorong oleh permintan produk di pasar baru yaitu Timur Tengah dan promosi yang terus dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri. Peningkatan nilai IKI juga disebabkan oleh enam subsektor yang berubah level menjadi ekspansi, sehingga jumlah subsektor yang mengalami ekspansi menjadi 17 subsektor dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023 sebesar 91,1 persen. 

Dari 17 subsektor tersebut, sebanyak enam subsektor berubah dari kontraksi menjadi ekspansi dengan kontribusi terhadap PDB kuartal III 2023 sebesar 17,94 persen. Sedangkan tiga subsektor berubah dari ekspansi menjadi kontraksi dengan kontribusi terhadap PDB kuartal III 2023 sebesar 5,04 persen.

Jika dilihat dari variabel pembentuk IKI, terjadi peningkatan pada variabel pesanan baru (+3,13) dan variabel produksi (+3,67) menjadi 54,85 dan 54,50. Variabel persediaan produk masih mengalami kontraksi dan mengalami penurunan nilai IKI sebesar 4,66 poin menjadi 43,29 artinya terjadi peningkatan stok produk pada industri pengolahan. 

 

"Meskipun variabel persediaan produk meningkat kontraksinya, kondisi tersebut tidak menunjukkan kondisi bisnis yang sedang buruk karena pesanan baru dan produksi meningkat ekspansinya,” jelas dia.

Febri menambahkan, kondisi umum kegiatan usaha pada November 2023 lebih baik dari Oktober 2023.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement