Jumat 24 Nov 2023 16:57 WIB

IHSG Bertahan di Zona Hijau di Tengah Pelemahan Bursa Asia

IHSG ditutup naik tipis 0,08 persen ke level 7.009,63.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ahmad Fikri Noor
Karyawan beraktivitas di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Karyawan beraktivitas di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada perdagangan akhir pekan, Jumat (24/11/2023). Menguat terbatas, IHSG ditutup naik tipis 0,08 persen ke level 7.009,63.

Pergerakan IHSG hampir sejalan dengan mayoritas bursa di Asia yang cenderung melemah. Indeks Nikkei 225 konsisten bergerak di zona positif dengan menguat 0,52 persen. Di sisi lain indeks Hang Seng Anjlok 1,96 persen.

Baca Juga

"Bursa Asia bergerak melemah karena pasar cenderung menahan diri masuk pada pasar saham," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam ulasannya.

Menurut Nico, pelaku pasar saat ini sedang menanti rilis data aktivitas manufaktur dan jasa China untuk periode Oktober. Data tersebut tentunya memberikan gambaran proses pemulihan ekonomi di China. 

 

Di sisi lain pasar juga menanti arah kebijakan pemerintah China terkait dengan stimulus properti. Hal ini seiring banyaknya perusahaan properti yang telah berguguran karena tidak bisa membayar utangnya. 

Kejatuhan di sektor properti ini berdampak pada perekonomian China yang menyumbang hingga 30 persen ke produk domestik bruto (PDB). Pasar terlihat cemas dan cenderung skeptis mengenai kemampuan stimulus ini dalam mencegah gagal bayar lebih lanjut.

Dari dalam negeri, pasar tampaknya merespons langkah kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuannya di level enam persen. "Pasar menilai keputusan tersebut untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dan dapat memitigasi dampak ketidakpastian global," kata Nico.

BI memperhatikan hal yang terjadi di dunia internasional, termasuk dengan arah kebijakan moneter The Fed Amerika Serikat (AS) ke depannya. Sebelumnya, BI mengungkapkan The Fed masih memililiki ruang terbuka menaikan suku bunga acuannya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement