Kamis 23 Nov 2023 17:04 WIB

Investor Full Senyum, IHSG Lompat 1,41 Persen Setelah BI Pertahankan Suku Bunga

IHSG ditutup menguat hingga 1,41 persen ke level 7.004,34.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ahmad Fikri Noor
Karyawan beraktivitas di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Karyawan beraktivitas di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak tajam pada perdagangan Kamis (23/11/2023). Konsisten bergerak di zona hijau, IHSG ditutup menguat hingga 1,41 persen ke level 7.004,34.

Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan penguatan IHSG terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repurchase Rate (BI7DRRR) di level enam persen, sesuai dengan ekspektasi pasar. 

Baca Juga

Suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility juga di pertahankan masing-masing di 5,25 persen dan 6,75 persen. "Keputusan ini tetap konsisten dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global," kata Phillip Sekuritas Indonesia dalam ulasannya.

BI juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di 4,5 persen-5,3 persen. Namun pertumbuhan ekonomi tahun depan diyakini akan membaik tahun depan didorong oleh belanja yang berkaitan dengan Pemillu dan pelaksanaan berbagai proyeksi strategis nasional (PSN).

 

Indeks saham di Asia sore ini ditutup datar dengan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,03 persen. Investor masih berpegang teguh pada harapan bahwa suku bunga global akan bergerak turun di tahun depan. Sentimen pasar di Asia mendapat sedikit tekanan dari rilis data ekonomi AS semalam yang memperlihatkan jumlah pencairan tunjangan (jobless claims) yang turun lebih kecil dari ekspektasi. 

Di tambah lagi dengan sinyal tegas (hawkish) dari notulen rapat kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) sehingga memicu ketidapastian kapan Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga di 2024. Penguatan nilai tukar dolar AS dan kenaikan imbal hasil surat utang Pemerintah AS semalam juga turut memberi tekanan, terutama pada saham-saham di sektor teknologi di Asia. 

Investor menunggu petunjuk dari pejabat tinggi Pemerintah China mengenai kemungkinan bantuan bagi pasar properti. Bloomberg kemarin melaporkan China menempatkan perusahaan pengembang property Country Garden ke dalam daftar 50 pengembang yang memenuhi syarat untuk menerima dukungan pendanaan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement