Jumat 17 Nov 2023 18:19 WIB

Boikot Produk Terkait Israel Berdampak ke Emiten, Begini Tanggapan Bos Bursa

Gerakan boikot atas produk yang mendukung Israel terus berlanjut.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ahmad Fikri Noor
Karyawan beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Karyawan beraktivitas di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BALIKPAPAN -- Gerakan boikot atas produk yang mendukung Israel terus berlanjut. Di Indonesia, sejumlah merek produk yang diboikot di antaranya berada di bawah naungan emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Direktur Utama BEI Iman Rachman turut mengomentari dampak seruan boikot tersebut bagi pasar modal Indonesia. Iman melihat, sejauh ini dampak ajakan boikot masih dapat dikelola dengan baik.

Baca Juga

"Bukannya tidak berdampak secara signifikan, tetapi bagi pasar modal kita dampak boikot ini masih managable," kata Iman di acara Capital Market Journalist Workshop-Media Gathering 2023, Jumat (17/11/2023).

Menurut Iman, investor masih mempertimbangkan faktor fundamental dalam keputusan investasinya. Sementara seruan boikot ini sifatnya masih berandai-andai, belum ada kepastian berapa lama boikot ini akan berlangsung.

Iman membandingkan dampak agresi Israel ini dengan konflik yang sebelumnya terjadi antara Rusia dan Ukraina. Iman melihat efek perang Rusia-Ukraina lebih besar karena Rusia memiliki sumber energi yang dampaknya signifikan. 

Iman melihat, saat ini boikot hanya menyasar sebagian kecil emiten di BEI. Sementara total jumlah saham yang tercatat di BEI mencapai 904, sehingga investor memiliki banyak pilihan saham ketika ingin mengalihkan investasinya.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK Antonius Hari mengatakan pihaknya mendukung langkah BEI dalam menjaga stabilitas di pasar modal. Di sisi lain, Antonius melihat pelaku pasar justru bisa memanfaatkan momentum ini.

"Investor bisa memanfaatkan momentum penurunan saham ini bisa dengan membelinya pada saat harga jatuh, padahal fundamental perusahaan bagus, tapi harus tetap hati-hati," ujar Antonius.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement