Senin 06 Nov 2023 21:27 WIB

Perang Israel-Palestina, Airlangga: Ekonomi Dunia tidak Bisa Napas Lagi

Tercatat per kuartal III 2023 pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,94 persen.

Rep: Novita Intan/ Red: Lida Puspaningtyas
Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengadakan Konferensi pers PDB Kuartal III 2023 serta stimulus fiskal di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/11/2033).
Foto: Republika/ Novita Intan
Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengadakan Konferensi pers PDB Kuartal III 2023 serta stimulus fiskal di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/11/2033).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah berupaya mengantisipasi kondisi ketegangan perekonomian global. Terbaru, konflik ekonomi global terjadi perang antara Israel dan Palestina.

 

Baca Juga

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan memantau pergerakan ekonomi global sekaligus mencermati survei perkembangan ekonomi dari berbagai lembaga internasional.

 

 

“Pemerintah terus mengantisipasi berbagai risiko akibat ketidakpastian geopolitik yang baru di Timur Tengah, Ukraina belum selesai, Israel dan Hamas menambah ketidakpastian. Dunia baru mulai bisa bernapas, kita tidak bisa napas lagi,” ujarnya saat konferensi pers, Senin (6/11/2023).

 

Kendati demikian Airlangga mengakui realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2023 tidaklah mudah. Tercatat per kuartal III 2023 pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,94 persen.

 

Menurut Airlangga, Indonesia masih harus menghadapi berbagai guncangan perekonomian global, mulai dari tensi geopolitik, faktor El Nino, hingga ancaman perubahan iklim lainnya yang belum terselesaikan.

 

Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani menambahkan melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satunya karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

 

“Kalau kita lihat dibandingkan dengan outlook yang selama ini disampaikan, konsumsi yang dikeluarkan oleh BPS memang relatif lebih rendah dari yang kita ekspektasi,” ucapnya.

 

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga periode tersebut sebesar 5,06 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini sedikit melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal II 2023 sebesar 5,22 persen.

 

Sri Mulyani menyebut pertumbuhan konsumsi rumah tangga tidak sesuai ekspektasi karena, awalnya pemerintah melihat kepercayaan konsumen masih tetap tinggi, namun ternyata konsumsinya tidak setinggi yang diharapkan.

 

“Ini perlu kita lihat pengaruhnya apa. Apakah psikologis dengan kondisi El Nino, harga beras naik, dan berbagai faktor,” ucapnya.

 

Menurutnya kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal III 2023 juga dihadapkan oleh ketidakpastian global, seperti adanya dinamika di pasar keuangan global dalam bentuk kenaikan yield US Treasury AS akibat kenaikan suku bunga acuan The Fed.

 

"Maka itu seperti yang disampaikan Pak Menko mengenai ekonomi kita kuartal III, yang 4,94 persen ini menandakan kita perlu merespons dengan kebijakan agar sampai dengan akhir tahun atau kuartal IV bisa kembali pada lima persen yang dilakukan untuk menetralisir harga beras yang naik selain menjaga pasokan dengan stok beras yang cukup," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement