Ahad 29 Oct 2023 17:51 WIB

Bahlil Tegaskan Realisasi Investasi di Indonesia tak Dikuasai Negara Tertentu

Selain China, ada Singapura, Hong Kong, Jepang, dan AS yang berinvestasi besar di RI.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Fuji Pratiwi
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Rabu (25/10/2023).
Foto: Republika/Iit Septyaningsih
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Rabu (25/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan, realisasi investasi di Indonesia kini sudah merata. Ia menegaskan, tidak lagi dikuasai oleh negara tertentu.

"Jadi keliru kalau dibilang investasi di Indonesia hanya dikuasai oleh China melulu, itu enggak benar," ujar Bahlil di Jakarta.

Baca Juga

Berdasarkan data realisasi investasi BKPM pada kuartal III 2023, ada lima negara teratas yang berinvestasi di Indonesia.

Bahlil menyebutkan, peringkat pertama masih diduduki Singapura. Hanya saja, kata dia, sebagian besar modal tersebut bukan uang orang Singapura tetapi uang orang Indonesia.

"Kita tahu Singapura menjadi penghubung. Yang menjadi persoalan adalah, kenapa bank tidak mampu merayu orang-orang Indonesia yang punya duit, kenapa harus taruh di Singapura. Ini tantangan," ujarnya.

Menurutnya, banyak pengusaha Indonesia menjadikan Singapura sebagai negara penghubung, salah satunya agar tidak terkena aturan pajak di Tanah Air. "Ya mungkin ini akibat ada strategi untuk pajak dan macam-macam. Saya dulu waktu saya jadi pengusaha juga ada begitu-begitunya," tutur Bahlil.

Negara kedua yang paling banyak menanamkan modal di Indonesia yaitu China. Disusul Hong Kong, Korea, Jepang dan Amerika Serikat. Adapun rincian nilai investasi dari luar negeri tersebut yaitu Singapura sebesar 4,4 miliar dolar AS, China sebesar 1,8 miliar dolar AS, Hong Kong sebesar 1,7 miliar dolar AS, Jepang 1,3 miliar dolar AS, dan Malaysia 0,9 miliar dolar AS.

Ia melanjutkan, Indonesia memiliki fondasi makro ekonomi yang kuat. Terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Fondasi tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh konsumsi sekitar 53 persen, investasi sekitar 29-30 persen, dan sisanya dari pengeluaran pemerintah serta perdagangan internasional. Maka dirinya yakin bisa mencapai target realisasi investasi tahun ini yang sebesar Rp 1.400 triliun.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement