Jumat 20 Oct 2023 08:39 WIB

BI Longgarkan Likuiditas Jaga Stabilitas Keuangan

Rasio alat likuid terhadap DPK masih 25,83 persen

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (kanan) dalam konferensi pers bulanan RDG BI Oktober 2023, Kamis (19/20/2023). 
Foto: Dok Tangkap Layar
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (kanan) dalam konferensi pers bulanan RDG BI Oktober 2023, Kamis (19/20/2023). 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memastikan longgarnya likuiditas untuk mendukung intermediasi perbankan. Selain itu juga untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

"Pada September 2023 rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tetap terjaga tinggi yaitu 25,83 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG Bulanan BI Oktober 2023, Kamis (19/10/2023).

Dia menjelaskan, perkembangan likuiditas tersebut berdampak positif terhadap perkembangan suku bunga perbankan. Selain itu juga suku bunga deposito perbankan jangka waktu satu bulan dan suku bunga kredit pada September 2023 masing-masing terjaga pada 4,28 persen dan 9,36 persen.

"Likuiditas perbankan yang tetap memadai juga didukung oleh implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang efektif berlaku pada 1 Oktober 2023 dengan besaran insentif maksimum empat persen," jelas Perry.

 

Pada awal implementasinya per 5 Oktober 2023, Perry menyebut, KLM telah memberikan tambahan likuiditas pada 120 bank sebesar Rp 28,79 triliun dari Rp 108,15 triliun menjadi sebesar Rp 136,94 triliun. Tambahan likuiditas tersebut diperkirakan akan semakin meningkat ke depan yang sejalan dengan peningkatan pertumbuhan kredit pada sektor-sektor prioritas yang menjadi fokus kebijakan.

"Bank Indonesia terus memastikan kecukupan likuiditas untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan penyaluran kredit atau pembiayaan guna mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," ucap Perry.

Likuiditas perbankan dan perekonomian tetap longgar. Pertumbuhan uang primer tercatat 5,4 persen secara tahunan didorong oleh ekspansi keuangan Pemerintah di tengah perlambatan aktiva luar negeri bersih.

Pada September 2023, Perry mengatakan operasi keuangan pemerintah mencatat ekspansi sebesar Rp 56,83 triliun. Hal tersebut sejalan dengan pola musimannya setelah sebelumnya sampai dengan Agustus 2023 mencatat kontraksi sebesar Rp 268,29 triliun.

Sementara itu, uang beredar dalam arti sempit dan luas pada September 2023 masing-masing tumbuh sebesar 4,1 persen dan enam persen secara tahunan.

Perkembangan uang beredar dalam arti luas terutama dipengaruhi oleh kredit yang tetap kuat dan operasi keuangan Pemerintah yang mencatat ekspansi. Searah dengan perkembangan di uang primer, operasi keuangan pemerintah pada September 2023 mencatat ekspansi sebesar Rp 35,56 triliun setelah sebelumnya juga mencatat kontraksi sebesar Rp 305,03 triliun sampai Agustus 2023.

Perry menegaskan, Bank Indonesia terus memastikan kecukupan likuiditas baik melalui efektivitas kebijakan yang ada maupun dengan pelonggaran kebijakan makroprudensial lanjutan. "Ini dilakukan untuk mendorong berlanjutnya peningkatan kredit atau pembiayaan guna mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional," tutur Perry.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement