Selasa 18 Jul 2023 15:59 WIB

Industri Mamin Manfaatkan Tahun Politik Tingkatkan Pertumbuhan

Pertumbuhan industri mamin diperkirakan bisa mencapai 7-10 persen di kondisi normal.

Konsumen sedang bercengkrama di kedai makanan minuman yang terdampak kenaikan biaya layanan QRIS.
Foto: Mgrol148
Konsumen sedang bercengkrama di kedai makanan minuman yang terdampak kenaikan biaya layanan QRIS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, industri makanan dan minuman (mamin) akan memanfaatkan tahun politik dan momentum pemilu sebagai lahan untuk tingkatkan pertumbuhan industri yang diharapkan bisa mencapai 6 persen hingga akhir 2023 ini.

"Periode politik atau pemilu ini menjadi berkah bagi industri mamin karena banyak acara atau kegiatan yang dilakukan baik oleh partai, maupun individu caleg dan lain sebagainya sehingga setiap acara maupun perjalanan butuh makanan dan minuman," katanya dalam konferensi pers di sela Kick Off Pendampingan Industri 4.0 Industri Makanan dan Minuman di Jakarta, Selasa (18/7/2023).

Adhi mengatakan, momentum tahun politik diharapkan bisa ikut mendorong pertumbuhan industri mamin. Ia menyebut hingga triwulan I 2023, industri mamin tercatat mampu tumbuh mencapai 5,3 persen, naik dibandingkan pertumbuhan pada 2022 yang hanya sebesar 4,9 persen.

Selain jadi karena maraknya kampanye, Adhi menyebut, beralihnya status dari pandemi ke endemi dan pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil di atas 5 persen juga menjadi pendorong tumbuhnya industri ini.

 

"Yang penting situasi politik kita kondusif dan tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.

Adhi mengatakan, dalam kondisi normal, pertumbuhan industri mamin diperkirakan bisa mencapai 7-10 persen.

"Saya berharap harusnya bisa di atas 6 persen, perkiraan kita 5-7 persen, tapi kita harap masih bisa di 6 persen. Lebih bagus dibanding tahun lalu yang 4,9 persen," ujarnya.

Dalam catatan Kemenperin, industri makanan dan minuman berkontribusi hingga 38,61 persen terhadap industri pengolahan nonmigas sepanjang kuartal I 2023. Adapun kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 6,47 persen.

Sebelumnya, Gapmmi memprediksi akan ada kenaikan aktivitas menjelang kampanye pemilu akan sangat tinggi yang akan membantu mendorong pertumbuhan industri makanan dan minuman.

"Karena pengalaman dulu selama periode kampanye pemilu itu pengeluaran sangat signifikan, tiba-tiba banyak sekali yang masuk," katanya pada Mei lalu.

Adhi berharap industri mamin akan dapat menikmati puncak permintaan produk mamin lantaran pada Lebaran 2023 lalu tidak terjadi peningkatan permintaan yang signifikan.

"Kami terus terang berharap peak (puncak) yang kedua tahun ini ya, terutama kita berharap nanti di menjelang pemilu ini mulai bergerak. Kita berharap semua aktivitas akan semakin banyak dan ujung-ujungnya baik itu makanan minuman, garmen, tekstil akan terangkat semua termasuk biaya perjalanan, hotel-hotel dan sebagainya," ujar Adhi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement