Selasa 13 Jun 2023 06:35 WIB

Proyek Pipa Gas Cisem Tahap I Dipastikan tidak Berada di Patahan

Peta geologi menunjukan infrastruktur jalur pipa gas tidak berada di patahan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaksanakan peninjauan pembangunan Pipa Transmisi Gas bumi Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap 1 ruas Semarang-Batang.
Foto: PGN
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaksanakan peninjauan pembangunan Pipa Transmisi Gas bumi Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap 1 ruas Semarang-Batang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pembangunan proyek pipa transmisi gas bumi Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap I ruas Batang-Semarang, tidak berada di patahan atau Sesar Gringsing. Hasil kajian Badan Geologi itu merupakan tidak lanjut dari adanya temuan Sesar Gringsing, yang berpotensi menimbulkan gempa pada awal Maret 2023 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Daerah diduga zona sesar tersebut tergolong tanah keras/batuan lunak (kelas C). Berdasarkan peta geologi lembar Jawa bagian tengah (Amin dkk, 1999) dan peta geologi lembar Banjarnegara dan Pekalongan (Condon dkk, 1996), tidak ada struktur geologi berupa sesar di daerah tersebut.

Baca Juga

"Berdasarkan peta geologi tersebut infrastruktur jalur pipa gas, yang melewati Kabupaten Batang tidak berada di Sesar Weleri atau Sesar Gringsing," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sugeng Mujiyanto, Selasa (13/6/2023).

Sugeng menggambarkan kondisi geologi daerah Sesar Gringsing terlihat relief sedang dan bukan merupakan pantai landai berdasarkan data Demnas. Pada bagian timur terlihat adanya gawir (scarp) berarah barat laut-tenggara. Berdasarkan data gaya berat, tidak terlihat adanya kelurusan anomali Bouger di daerah yang diduga zona Sesar Gringsing.

Demikian pula, berdasarkan data Demnas tidak terlihat kelurusan. Kelurusan data Demnas terlihat di selatan zona Sesar Weleri/Gringsing yang berarah NWW-SEE. Batuan daerah tersebut adalah endapan kuarter berumur pleistosen yang merupakan Formasi Damar (QTd), terdiri atas batu lempung tufan, breksi gunung api, batu pasir, tuf dan konglomerat, serta diperkirakan diendapkan pada lingkungan non-marine.

Sugeng mengatakan, berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi (KRBG) yang diterbitkan Badan Geologi, zona Sesar Weleri terletak di KRBG rendah artinya kawasan yang berpotensi terlanda guncangan gempa bumi pada skala V MMI (Modified Mercally Intensity).

"Sebaran kegempaan daerah tersebut tergolong rendah. Berdasarkan data katalog gempa bumi merusak dari Badan Geologi, tidak tercatat adanya kejadian gempa bumi merusak di zona Sesar Weleri. Kejadian gempa bumi merusak pernah terjadi pada 21 Agustus 2008 di Laut Jawa yang berjarak sekitar 5,85 km utara zona Sesar Weleri dengan magnitudo (M 4,4), kedalaman 30 km, dan mengakibatkan kerusakan ringan pada bangunan di Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung," katanya menerangkan.

Sugeng menambahkan, Kementerian ESDM dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur sektor ESDM selalu memperhatikan dan mempertimbangkan aspek-aspek kegeologian dan kebencanaan.

"Potensi kejadian gempa bumi di wilayah sekitar Gringsing tersebut cukup rendah dan tidak besar, yaitu dalam sejarahnya hanya satu kali pada 21 Agustus 2008 dengan magnitude 4,4 yang berada 5,9 km di utara zona Gringsing. Jadi prinsipnya, Kementerian ESDM jika akan membangun infrastruktur ESDM, sudah mempertimbangkan aspek kebencanaan," ujarnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement