Kamis 16 Feb 2023 17:32 WIB

IHSG Terkoreksi Tertekan Saham Energi

IHSG melemah 0,27 persen ke level 6.895,66.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/11/2022). IHSG melemah 0,27 persen ke level 6.895,66.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/11/2022). IHSG melemah 0,27 persen ke level 6.895,66.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis (16/2/2023). IHSG melemah 0,27 persen ke level 6.895,66 setelah sempat menguat di awal perdagangan.

Penurunan IHSG tertekan saham-saham sektor kesehatan, energi, primer, keuangan, hingga barang baku. Kenaikan signifikan sektor saham teknologi dan infrastruktur masih belum berhasil mengangkat kinerja IHSG hari ini.

Baca Juga

Pergerakan IHSG tidak sejalan dengan indeks saham Asia yang mayoritas menguat. "Investor menyambut baik data penjualan Ritel AS yang keluar lebih baik dari ekspektasi," kata Phillip Sekuritas Indonesia, Kamis (16/2/2023).

Penjulaan Ritel di AS naik 3,0 persen mom selama bulan Januari, lebih tinggi dari ekspektasi kenaikkan 1,9 persen mom Tanpa menggabungkan penjualan otomotif, Penjualan Ritel naik 2,3 persen mom.

Dari kawasan Asia, investor juga mencerna sejumlah rilis data ekonomi. Defisit Neraca Perdagangan Jepang mencatatkan rekor terbesar menjadi 3,497 triliun yen di bulan Januari dari 2,199 triliun yen pada periode yang sama tahun lalu.

Ini menandakan defisit Neraca Perdagangan selama 18 bulan beruntun bagi Jepang. Pencapaian ini terpanjang sejak 2015 sehingga dapat membahayakan pemulihan ekonomi negara itu.

Dari Australia, Tingkat Pengangguran secara tak terduga naik menjadi 3,7 persen di bulan Januari, tertinggi sejak Mei 2022 dari 3,5 persen di bulan Desember yang juga merupakan tingkat terendah dalam hampir 5 dekade.

Di Asia Tenggara, bank sentral Filipina menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 6,0 persen setelah Tingkat Inflasi naik menjadi 8,7 persen yoy bulan lalu, tertinggi sejak Oktober 2008 dari 8,1 persen yoy di bulan Desember 2022.

Sebaliknya, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI7DRRR di 5,75 persen setelah menaikkan suku bunga selama enam kali beruntun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement