Senin 13 Feb 2023 15:49 WIB

Stasiun Bahan Bakar Bioetanol Siap Diluncurkan di Surabaya

Stasiun bahan bakar bioetanol di Surabaya diluncurkan dalam empat bulan ke depan.

Penguji menguji bahan bakar nabati bioetanol yang dibuat dari bahan-bahan alternatif.
Foto: Antara/Syaiful Arif
Penguji menguji bahan bakar nabati bioetanol yang dibuat dari bahan-bahan alternatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir siap meluncurkan stasiun pengisian bensin bioetanol di Surabaya dalam tiga atau empat bulan ke depan. "Kita sudah mulai uji coba juga di PTPN untuk mulai produksi etanol yang nantinya stasiun pengisian bensinnya akan diluncurkan di Surabaya," ujar Erick dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI sebagaimana dipantau secara daring di Jakarta, Senin (13/2/2023).

Menurut Erick, alasan stasiun pengisian bioetanol ini di Surabaya, karena bioetanol sama seperti biodiesel B35 yang merupakan jenis bahan bakar minyak(BBM) berasal dari tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian, bioetanol ini memiliki proses logistik yang lebih kompleks dibandingkan dengan BBM dari minyak bumi.

Baca Juga

"Jadi dia (bioetanol) tidak bisa terlalu jauh pompa bensin atau stasiun pengisiannya karena dapat membusuk. Ini yang kita coba, kenapa kita lakukan uji coba di Surabaya pada 3-4 bulan lagi," kata Erick.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Indonesia harus bisa memproduksi bioetanol dalam rangka menyelesaikan importasi BBM. Terkait bioetanol, Erick menyampaikan bahwa Kementerian BUMN melakukan benchmarking dengan negara sahabat yakni Brazil, di mana mereka sudah bisa mendorong turunan daripada gula menjadi bioetanol sudah berhasil di berbagai negara.

Hal ini dalam rangka supaya terdapat kepastian apa yang diproduksi oleh perusahaan gula nasional dan para petani bisa disinambungkan dengan kebutuhan energi nasional. Upaya tersebut merupakan langkah awal Indonesia untuk bersama-sama mewujudkan produksi bioetanol kepada masyarakat dengan mencampur bioetanol ke BBM.

Erick mengatakan, sejalan dengan prioritas pemerintah yang dipimpin oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), di mana Presiden selalu menekankan bahwa pembangunan ekosistem, ketergantungan Indonesia terhadap rantai pasok dunia untuk pangan dan energi harus diatasi bersama-sama. Karena itu harus terus didorong bagaimana hilirisasi daripada industrialisasi gula, kelapa sawit, nikel ini sudah menjadi kenyataan, bukan hanya sekadar wacana.

Tentu ikhtiar ini tidak bisa terjadi kalau tidak mendapatkan dukungan dari semua pihak. Kedaulatan pangan dan energi harus bisa diciptakan bersama-sama.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement