Rabu 16 Nov 2022 05:45 WIB

Belanja Produk UMKM Bisa Tangkal Resesi? Begini Penjelasan Pakar

Bisnis UMKM sebagai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia.

Produk kerajinan UMKM.  (ilustrasi)
Foto: Republika/Wihdan
Produk kerajinan UMKM. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perencana keuangan Prita Ghozie memberikan kiat mengelola keuangan guna menghadapi tantangan situasi ekonomi yang tidak menentu di depan mata. Salah satunya dengan berbelanja produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Menurut Prita, dalam wawancara dengan media, Selasa (15/11/2022), bisnis UMKM sebagai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia memegang peranan yang signifikan terhadap pertumbuhan dan kestabilan ekonomi di tengah ancaman resesi.

Baca Juga

Konsumsi produk lokal UMKM terus digalakkan dengan tujuan untuk menggerakkan roda bisnis mereka. Saat ini, produk lokal dengan kualitas tinggi dan harga terjangkau sudah tersedia dan semakin mudah diakses masyarakat, apalagi dengan adanya kemudahan teknologi dan berbagai platform e-commerce yang membantu pemilik usaha skala kecil untuk go digital dan terus maju.

Data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Agustus 2022 menunjukkan, terdapat 65 juta UMKM di Indonesia yang berkontribusi sebesar 60,5 persen PDB. Belanja produk lokal hasil karya UMKM merupakan salah satu cara yang berpotensi untuk menangkal resesi, dapat terus dilakukan masyarakat demi mencapai kestabilan ekonomi di tahun mendatang.

 

Berbagai kemudahan dan keuntungan berbelanja online ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan masyarakat sebagai cara cermat dalam mengelola pengeluaran dan keuangan. "Selain bisa menekan pengeluaran, belanja di UMKM yang merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional pun justru bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang positif. Hal ini menjadi salah satu kunci agar kita semakin kuat bertahan menghadapi ancaman resesi," jelas Prita.

Selain berbelanja produk UMKM, Prita lalu menyebutkan cara lain mengelola keuangan yakni mengevaluasi pos pengeluaran. Dia sangat menyarankan hal ini mengingat ekonomi sedang sulit dan tak menentu, guna isi dompet tidak cekak dan bocor halus.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencatat semua detail pengeluaran. Dengan begitu, orang-orang mempunyai visibilitas yang lebih besar pada uang yang dipakai.

"Selanjutnya, kategorikan dan sortir setiap biaya yang keluar berdasarkan prioritasnya, hal ini dilakukan untuk mempermudah kita dalam memangkas pengeluaran yang tak perlu," ujar Prita.

Cara lainnya yakni memperbanyak tabungan dan mencari penghasilan tambahan. Menurut Prita, penghasilan tambahan dapat digunakan sebagai tabungan untuk mengantisipasi berbagai perubahan di tengah situasi yang tak menentu.

Terakhir, masyarakat disarankan lebih cermat dalam berbelanja. Prita mengakui, mengubah kebiasaan belanja memang tidak mudah untuk dilakukan. Menurut dia, orang-orang tidak harus langsung berhenti yang justru memicu resesi.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan supaya bisa lebih cermat dalam mengalokasikan pengeluarannya antara lain rajin membandingkan harga produk sebelum membeli, meminimalisir pembelian impulsif saat berbelanja langsung ke supermarket atau minimarket.

Cara lainnya, memilih platform belanja secara online melalui marketplace yang bisa kasih lebih banyak kemudahan dan keuntungan.

Resesi tengah menjadi perbincangan hangat masyarakat di penghujung tahun 2022. Hal ini karena ada kemungkinan menyebabkan menurunnya pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto (PDB) yang dinilai bisa membawa berbagai dampak bagi masyarakat, walaupun hingga kuartal II-2022 ekonomi Indonesia tercatat masih tumbuh positif sebesar 5,4 persen.

Menurut Prita, wajar bila orang-orang merasa panik dengan situasi ekonomi global yang masih bergejolak sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Namun, alih-alih merasa takut, menurut dia, masyarakat harus mengatur strategi dan persiapan untuk menghadapi kondisi mendatang.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement